Software
Chroma Dibeli Replit dan Chroma Cloud Tutup, Ini Jadwal dan Cara Pindah Datanya
Chroma resmi bergabung dengan Replit pada 23 Oktober 2026 dan Chroma Cloud akan ditutup. Penulisan data berhenti 22 November, pembacaan berhenti 22 Desember 202
Kabar besar datang dari dunia database untuk AI. Chroma, perusahaan di balik ChromaDB, mengumumkan pada 23 Oktober 2026 bahwa mereka sudah menandatangani perjanjian final untuk bergabung dengan Replit. Nilai transaksinya tidak diumumkan, tapi dampaknya langsung terasa buat satu kelompok pengguna: pelanggan Chroma Cloud.
Layanan cloud berbayar milik Chroma akan ditutup bertahap dalam 60 hari. Sementara itu, versi open source ChromaDB tetap jalan seperti biasa. Banyak developer yang memakai ChromaDB untuk chatbot, pencarian dokumen, atau memori agen AI jadi bertanya-tanya: apakah proyek mereka ikut terdampak?
Artikel ini akan menjelaskan isi pengumuman Chroma dan Replit, jadwal penutupan Chroma Cloud, perbedaan nasib versi cloud dengan versi open source, serta langkah praktis memindahkan data sebelum tenggat. Ada juga catatan singkat buat developer dan tim startup di Indonesia yang sedang memakai Chroma.
Isi pengumuman Chroma bergabung dengan Replit
Pengumuman ini ditulis langsung oleh tim Chroma lewat blog resmi berjudul "Chroma is joining Replit". Menurut Chroma, tujuan penggabungan ini adalah membangun "context layer" untuk perusahaan yang makin banyak dijalankan oleh agen AI. Sederhananya, mereka ingin agen AI bisa tahu semua yang diketahui sebuah perusahaan, mulai dari dokumen sampai catatan kerja.
Beberapa poin penting dari pengumuman itu:
- Status transaksi: Chroma menyebut sudah menandatangani definitive agreement. Artinya kesepakatan sudah final di atas kertas, tapi pengumuman itu belum menyatakan transaksinya sudah selesai sepenuhnya.
- Hubungan lama: Presiden Replit Michele Catasta dan CEO Replit Amjad Masad adalah investor awal Chroma. Jadi ini bukan pertemuan dua pihak yang baru kenal.
- Produk yang dibawa: Chroma akan melanjutkan pengembangan ChromaDB dan Foundation, sistem konteks untuk organisasi yang mereka rilis pertengahan 2026. Chroma mengklaim Foundation mencapai skor teratas di benchmark memori BEAM.
- Nilai akuisisi: tidak diungkap oleh kedua pihak.

Di X, unggahan resmi @trychroma yang berbunyi "Chroma is joining Replit!" sudah ditonton lebih dari 103 ribu kali dengan sekitar 546 likes dan puluhan balasan. Akun @Replit juga mengumumkan kabar yang sama. Reaksi komunitas cukup beragam. Sebagian menyambutnya karena fitur pencarian konteks bisa langsung tertanam di lingkungan coding, sementara sebagian lain mengingatkan bahwa akuisisi saja tidak menjamin memori perusahaan langsung berjalan baik, karena masih ada urusan izin akses, frekuensi pembaruan data, dan kepatuhan.
Jadwal penutupan Chroma Cloud
Bagian ini yang paling penting buat pelanggan berbayar. Chroma menerbitkan halaman khusus berjudul "Chroma Cloud wind-down timeline" pada 23 Oktober 2026. Isinya membagi penutupan ke dalam dua tahap.
| Tanggal | Yang terjadi | Yang harus dilakukan sebelumnya |
|---|---|---|
| 22 November 2026 | Chroma Cloud jadi read-only. Tidak bisa tambah, ubah, atau hapus data. | Hentikan atau alihkan aplikasi yang menulis data, pindahkan workload aktif, mulai ekspor data |
| 22 Desember 2026 | Chroma Cloud berhenti melayani pembacaan data | Selesaikan ekspor, pastikan aplikasi tidak lagi memanggil endpoint Chroma Cloud, hapus atau ganti kredensial |
Yang sering terlewat adalah tahap pertama. Banyak orang membaca "60 hari" lalu mengira masih punya waktu sampai akhir Desember. Padahal, kalau aplikasi terus menambah data, misalnya chatbot yang menyimpan dokumen baru setiap hari, batas sebenarnya adalah 22 November. Setelah tanggal itu, proses penulisan akan gagal dan aplikasi bisa error.
Peringatan: Jam pasti penutupan tidak disebutkan di halaman resmi. Supaya aman, anggap tenggatnya sehari sebelum tanggal tersebut dan selesaikan migrasi lebih awal.
Chroma juga tidak menawarkan layanan cloud pengganti yang dikelola langsung oleh mereka. Untuk pertanyaan soal akun, Chroma mengarahkan pelanggan ke alamat dukungan resmi [email protected].
Nasib ChromaDB open source
Kabar baiknya, penutupan ini hanya berlaku untuk Chroma Cloud. ChromaDB versi open source tetap tersedia dengan lisensi Apache 2.0, dan Replit berjanji akan terus berkontribusi ke proyek tersebut.
Angka yang disebut Chroma cukup besar:
- Sekitar 6 juta unduhan per bulan untuk ChromaDB.
- Hampir 30 ribu bintang di GitHub.
- Chroma juga memindahkan kode dari repositori privat ke repo open source berlisensi Apache 2.0, supaya kelanjutan proyek terbuka lebih terjamin.
Jadi, kalau selama ini ChromaDB dijalankan sendiri di laptop, server kantor, atau VPS, tidak ada yang perlu diubah dalam waktu dekat. Library Python dan JavaScript-nya tetap bisa dipakai. Yang perlu diperhatikan ke depan adalah arah pengembangan, karena sekarang prioritasnya akan ikut kebutuhan Replit, terutama soal konteks untuk agen AI perusahaan.
Catatan: Lisensi Apache 2.0 cukup longgar. Kode yang sudah dirilis tetap boleh dipakai, dimodifikasi, dan di-fork oleh siapa saja, termasuk untuk produk komersial.
Cara pindah data dari Chroma Cloud
Buat yang sudah menyimpan koleksi di Chroma Cloud, langkah migrasinya bisa dibuat sederhana. Prinsipnya ada tiga: siapkan tempat baru, salin data, lalu putuskan koneksi lama.
- Inventaris dulu. Catat semua koleksi, jumlah dokumen, dan aplikasi mana saja yang membaca atau menulis ke Chroma Cloud.
- Pilih tujuan baru. Pilihan paling dekat adalah ChromaDB open source yang dijalankan sendiri, karena API-nya sama. Opsi lain adalah database vektor atau ekstensi vektor di database yang sudah dipakai tim.
- Ekspor data per koleksi. Ambil ID, dokumen, metadata, dan embedding, lalu tulis ulang ke tempat baru.
- Alihkan penulisan sebelum 22 November. Arahkan aplikasi yang menambah data ke database baru lebih dulu.
- Validasi. Cocokkan jumlah dokumen dan coba beberapa query untuk memastikan hasilnya mirip.
- Bersihkan sebelum 22 Desember. Hapus endpoint dan API key Chroma Cloud dari kode, file
.env, dan pengaturan server.
Contoh skrip Python sederhana untuk menyalin satu koleksi dari Chroma Cloud ke ChromaDB yang dijalankan sendiri:
import chromadb
# Sumber: Chroma Cloud
cloud = chromadb.CloudClient(
tenant="TENANT_ANDA",
database="DATABASE_ANDA",
api_key="API_KEY_ANDA",
)
# Tujuan: ChromaDB self-hosted (misalnya di VPS)
lokal = chromadb.HttpClient(host="localhost", port=8000)
src = cloud.get_collection("dokumen_produk")
dst = lokal.get_or_create_collection("dokumen_produk", metadata=src.metadata)
batch = 500
offset = 0
while True:
data = src.get(
limit=batch,
offset=offset,
include=["documents", "metadatas", "embeddings"],
)
if not data["ids"]:
break
dst.add(
ids=data["ids"],
documents=data["documents"],
metadatas=data["metadatas"],
embeddings=data["embeddings"],
)
offset += batch
print("Jumlah sumber:", src.count(), "| Jumlah tujuan:", dst.count())
Skrip ini membaca data per 500 baris supaya tidak berat, lalu menuliskannya ke server baru. Embedding ikut disalin, jadi tidak perlu menghitung ulang embedding dan tidak ada biaya tambahan ke penyedia model. Sesuaikan nama tenant, database, dan koleksi dengan akun masing-masing.
Tips: Kalau ChromaDB baru dijalankan dengan Docker, pasang volume penyimpanan permanen. Tanpa itu, data bisa hilang saat container dihapus atau di-restart ulang.
Pilihan tempat baru selain Chroma Cloud
Tidak semua tim harus tetap di Chroma. Pilihan yang masuk akal tergantung skala dan kemampuan tim mengurus server.
- ChromaDB self-hosted. Paling mudah karena kode aplikasi hampir tidak perlu diubah. Cocok untuk tim kecil yang sudah terbiasa mengelola VPS atau Docker.
- Ekstensi vektor di PostgreSQL (pgvector). Menarik kalau aplikasi sudah memakai PostgreSQL. Data relasional dan vektor bisa tinggal di satu tempat, sehingga lebih sedikit layanan yang perlu dipantau.
- Database vektor terkelola lain. Ada beberapa layanan cloud khusus vektor di pasar. Pilihan ini cocok buat yang tidak mau mengurus server, tapi perlu cek harga, lokasi data center, dan cara ekspor data sejak awal.
- Menunggu produk dari Replit. Replit belum mengumumkan produk gabungan atau harganya. Untuk sistem yang sedang berjalan, menunggu kabar ini cukup berisiko karena tenggat 22 November sudah dekat.
Kalau pindah ke database selain Chroma, ada satu hal yang perlu dicek: model embedding dan dimensi vektornya. Embedding lama bisa dipakai ulang selama database baru mendukung dimensi yang sama dan aplikasi tetap memakai model embedding yang sama untuk query.

Kenapa Replit tertarik dengan Chroma
Replit selama ini dikenal sebagai platform untuk membuat aplikasi lewat agen AI. Persaingannya makin ketat, karena Cursor, Cognition, dan pemain lain juga sedang mengejar pelanggan perusahaan. Agen AI yang bagus tidak cukup hanya pintar menulis kode. Agen juga perlu tahu konteks: dokumen internal, keputusan lama, sampai riwayat percakapan tim.
Baca juga Google Sheets Kini Bisa Bikin Box Plot Otomatis, Begini Caranya
Di sinilah Chroma masuk. Beberapa alasan yang terlihat dari pengumuman resmi:
- Teknologi pencarian dan memori. ChromaDB sudah lama dipakai untuk menyimpan dan mencari dokumen berdasarkan makna, bukan sekadar kata kunci.
- Foundation. Sistem konteks untuk organisasi ini bisa menjadi dasar "memori perusahaan" untuk agen Replit.
- Basis pengguna besar. Dengan jutaan unduhan per bulan, Chroma membawa komunitas developer yang sudah familiar dengan produknya.
Langkah ini juga muncul di minggu yang sama dengan banyak pengumuman agen AI lain, seperti Cursor yang agennya kini bisa mengendalikan komputer. Artinya, perlombaan antarplatform sekarang tidak hanya soal model AI, tapi juga soal siapa yang paling paham konteks penggunanya.
Yang relevan buat developer di Indonesia
ChromaDB cukup populer di kalangan developer Indonesia, terutama untuk proyek chatbot dokumen, tugas akhir, dan prototipe startup. Kebanyakan proyek seperti ini memakai versi open source yang berjalan di laptop atau VPS, jadi tidak terdampak langsung.
Yang perlu bergerak cepat adalah tim yang memakai Chroma Cloud untuk produk yang sudah dipakai pelanggan. Beberapa hal praktis yang bisa jadi pertimbangan:
- VPS lokal atau regional. Menjalankan ChromaDB sendiri di VPS dengan lokasi Jakarta atau Singapura bisa membuat latensi lebih rendah untuk pengguna di Indonesia.
- Urusan data pribadi. Kalau koleksi berisi data pelanggan, migrasi ini sekaligus jadi momen yang baik untuk mengecek kepatuhan terhadap UU Pelindungan Data Pribadi, termasuk di mana data disimpan.
- Biaya dalam dolar. Pindah ke self-hosted bisa mengurangi tagihan dolar bulanan, tapi tim perlu siap mengurus backup, update, dan keamanan server sendiri.
- Proyek kampus dan pembelajaran. Tutorial yang memakai
chromadblokal tetap berlaku. Tidak perlu panik atau mengganti library.
Tips: Buat tim kecil, cara paling hemat biasanya adalah memindahkan ChromaDB ke VPS yang sudah dipakai untuk backend aplikasi, lalu menyiapkan backup otomatis harian.

Perbedaan Chroma Cloud dan ChromaDB open source
Banyak yang masih bingung membedakan keduanya, padahal nasibnya sekarang berbeda.
| Aspek | Chroma Cloud | ChromaDB open source |
|---|---|---|
| Pengelola server | Tim Chroma | Pengguna sendiri |
| Status setelah akuisisi | Ditutup bertahap, berhenti total 22 Desember 2026 | Tetap jalan, lisensi Apache 2.0 |
| Biaya | Langganan berbayar | Gratis, bayar server sendiri |
| Perlu migrasi? | Ya, sebelum 22 November untuk penulisan | Tidak |
Intinya, kalau aplikasi terhubung ke Chroma lewat API key dan endpoint cloud, berarti itu Chroma Cloud dan perlu dipindahkan. Kalau ChromaDB berjalan di mesin sendiri lewat pip install chromadb atau Docker, proyek tetap aman.
Checklist
- Cek apakah aplikasi memakai Chroma Cloud atau ChromaDB self-hosted
- Catat semua koleksi dan aplikasi yang terhubung ke Chroma Cloud
- Siapkan database tujuan dan uji koneksinya
- Ekspor dokumen, metadata, dan embedding per koleksi
- Alihkan semua proses penulisan sebelum 22 November 2026
- Cocokkan jumlah data dan uji beberapa query
- Hapus endpoint dan API key Chroma Cloud sebelum 22 Desember 2026
Poin penting
- Chroma menandatangani perjanjian final untuk bergabung dengan Replit pada 23 Oktober 2026.
- Nilai akuisisi tidak diumumkan.
- Chroma Cloud jadi read-only mulai 22 November dan berhenti total 22 Desember 2026.
- ChromaDB open source tetap tersedia dengan lisensi Apache 2.0.
- Replit akan terus berkontribusi ke proyek open source Chroma.
Referensi
- Chroma (2026). Chroma is joining Replit
- Chroma (2026). Chroma Cloud wind-down timeline
- Runtime Wire (2026). Chroma joins Replit to build a context layer for company agents
- Magica (2026). Chroma signs Replit deal, sets cloud shutdown deadlines
- DigIntoAI (2026). Chroma Joins Replit: Cloud Writes Stop Nov 22, Reads Dec 22
- ToolSift (2026). Daily AI news, Saturday, 24 October 2026
- X @trychroma (2026). Chroma is joining Replit
- X @Replit (2026). TryChroma is joining Replit
Pertanyaan Umum
Apakah ChromaDB akan berhenti dikembangkan?
Kapan Chroma Cloud benar-benar tidak bisa dipakai?
Berapa harga akuisisi Chroma oleh Replit?
Apakah proyek ChromaDB di laptop atau VPS perlu dipindahkan?
Apakah embedding perlu dihitung ulang saat pindah?
Kesimpulan
Bergabungnya Chroma dengan Replit menunjukkan bahwa perlombaan agen AI kini bergeser ke urusan konteks dan memori. Buat sebagian besar developer yang memakai ChromaDB open source, kabar ini tidak mengubah apa-apa dalam waktu dekat, karena proyeknya tetap terbuka dan berlisensi Apache 2.0.
Lain cerita buat pelanggan Chroma Cloud. Tanggal yang perlu dilingkari adalah 22 November 2026, saat penulisan data berhenti, lalu 22 Desember 2026 saat layanan mati total. Mulai migrasi sekarang, entah ke ChromaDB yang dijalankan sendiri atau ke database lain, supaya aplikasi tetap berjalan tanpa gangguan.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!
Tinggalkan komentar