Tech
Opera Browser: VPN Gratis, Ad Blocker & AI Aria
Daftar isi
- Apa Itu Opera Browser?
- Kenapa Opera Browser Layak Dicoba?
- Spesifikasi dan Persyaratan Sistem
- Step 1: Download dan Install Opera Browser
- Untuk Windows
- Untuk macOS
- Untuk Linux
- Untuk Android
- Step 2: Konfigurasi Awal Setelah Instalasi
- Import Data dari Browser Lama
- Setup Opera Account untuk Sinkronisasi
- Step 3: Mengaktifkan VPN Gratis Bawaan
- Cara Mengaktifkan VPN
- Kenapa VPN Bawaan Itu Berguna?
- Step 4: Mengaktifkan dan Konfigurasi Ad Blocker
- Cara Mengaktifkan Ad Blocker
- Konfigurasi Lanjutan Ad Blocker
- Step 5: Mengenal dan Menggunakan Aria — AI Assistant Bawaan
- Cara Mengaktifkan Aria
- Contoh Penggunaan Aria
- Privacy dan Aria
- Step 6: Mengatur Tab Islands untuk Browsing Lebih Terorganisir
- Cara Pakai Tab Islands
- Manual Tab Islands
- Step 7: Split Screen untuk Multitasking
- Cara Aktifkan Split Screen
- Step 8: Menggunakan Sidebar dan Messenger Terintegrasi
- Aplikasi yang Tersedia di Sidebar
- Cara Setup Sidebar
- Step 9: Konfigurasi Keyboard Shortcuts dan Gestur
- Shortcuts Penting
- Custom Shortcuts
- Step 10: Install dan Kelola Ekstensi
- Cara Install Ekstensi Chrome di Opera
- Ekstensi yang Saya Rekomendasikan
- Step 11: Konfigurasi Privasi dan Keamanan
- Pengaturan Privasi yang Disarankan
- Clear Browsing Data on Exit
- Password Manager Bawaan
- Step 12: Menggunakan Data Saver Mode (Mobile)
- Cara Aktifkan Data Saver
- Night Mode
- Step 13: Mengenal Opera GX dan Opera Mini
- Opera GX — Browser untuk Gamer
- Opera Mini — Browser Ringan untuk Mobile
- Perbandingan Opera vs Browser Lain
- Rekomendasi Berdasarkan Use Case
- Step 14: Developer Tools di Opera
- Akses DevTools
- Fitur DevTools yang Sering Saya Pakai
- Opera-Specific DevTools Features
- Step 15: Konfigurasi Lanjutan dengan opera:flags
- Akses opera:flags
- Flags yang Saya Rekomendasikan
- Step 16: Backup dan Restore Konfigurasi
- Lokasi File Konfigurasi
- Backup Manual
- Restore
- Troubleshooting: Masalah Umum dan Solusinya
- Masalah 1: Opera Tidak Mau Buka Setelah Update
- Masalah 2: VPN Tidak Terhubung
- Masalah 3: Tab Islands Tidak Muncul Otomatis
- Masalah 4: Ekstensi Chrome Tidak Terinstall
- Masalah 5: Opera Boros RAM
- Masalah 6: Flow Tidak Sinkron Antar Perangkat
- Tips dan Trik Lanjutan
- Tip 1: Gunakan Workspaces untuk Pisah Konteks
- Tip 2: Pinboards untuk Koleksi Web
- Tip 3: Video Pop-Out untuk Multitasking
- Tip 4: Snapshot Tool untuk Screenshot
- Tip 5: Battery Saver Mode
- Tip 6: Custom Search Engine
- Studi Kasus: Migrasi dari Chrome ke Opera
- Background
- Challenge
- Approach
- Implementation
- Results
- Key Learnings
- Kesalahan Umum yang Sering Terjadi
- Kesalahan 1: Install Terlalu Banyak Ekstensi
- Kesalahan 2: Nggak Setup Backup
- Kesalahan 3: Enable Semua Flags Sekaligus
- Kesalahan 4: Abaikan Update
- Optimasi Opera untuk Developer Web
- Setup Dev Environment
- Test Ekstensi Lokal
- Debugging dengan Opera
- Opera untuk Bisnis dan Tim
- Opera di Indonesia: Tips untuk Pengguna Lokal
- Performa dan Benchmark
- Benchmark Hasil
- Pernahkah Teman-Taman Mengalami Hal Ini?
- Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
- Apakah Opera Browser Gratis?
- Apakah Opera Aman Dipakai?
- Apakah Opera Support Ekstensi Chrome?
- Apakah Opera Lebih Cepat dari Chrome?
- Bisakah Opera dan Chrome Dipakai Bersamaan?
- External Resources
- Langkah Selanjutnya Setelah Setup Opera
- Dynamic Themes: Bikin Browser Lebih Personal
- Early Bird: Beta Test Fitur Baru
- Translator Bawaan Opera
- Opera dan Web3
- Mengoptimalkan Opera untuk Laptop Lawas
- Kesimpulan
Pernah nggak Teman-Teman ngerasa kesel kalau browser bawaan laptop atau HP jadi lambat, banyak iklan, dan soal privasi rasanya kayak nggak ada jaminan? Saya sendiri dulu cukup frustasi sama situasi ini sampai akhirnya nemu Opera Browser—sebuah browser yang udah berpengalaman lebih dari 30 tahun di industri ini dan terus berinovasi. Opera bukan sekadar browser biasa; dia datang dengan VPN gratis bawaan, ad blocker terintegrasi, AI assistant bernama Aria, dan berbagai fitur yang bikin browsing jadi lebih cepat, aman, dan produktif. Dalam panduan ini, saya bakal ajak Teman-Teman kenalan lebih dalam sama Opera Browser—mulai dari instalasi, konfigurasi, sampai tips lanjutan yang biasa saya pakai sehari-hari.
Apa Itu Opera Browser?
Opera Browser adalah peramban web multi-platform yang dikembangkan oleh Opera Norway AS, berbasis mesin open-source Chromium—fondasi yang sama dengan Google Chrome. Tersedia untuk Windows, macOS, Linux, Android, dan iOS, Opera menawarkan fitur bawaan seperti VPN gratis, ad blocker, messenger terintegrasi, dan AI assistant yang nggak kamu temukan di browser lain secara default.
Opera pertama kali dikembangkan di Telenor sebagai bagian dari proyek MultiTorg, dan sejak saat udah berkembang jadi salah satu browser paling inovatif di dunia. Opera dikenal sebagai browser yang pertama kali memperkenalkan tabbed browsing ke dunia web pada tahun 2000—fitur yang sekarang jadi standar di semua browser. Versi terbarunya, yang dikenal sebagai Opera One R3, hadir dengan desain modular, Tab Islands, dan AI yang lebih canggih.
Saya udah pakai Opera sekitar dua tahun terakhir, dan jujur, pengalaman saya cukup positif. Bukan berarti nggak ada kekurangan—ada beberapa hal yang kadang bikin saya agak gregetan juga. Tapi overall, value yang ditawarkan Opera buat saya sepadan, apalagi untuk yang concern sama privasi dan produktivitas.
Kenapa Opera Browser Layak Dicoba?
Sebelum kita masuk ke bagian teknis, mari kita bahas dulu kenapa Opera ini worth dipertimbangkan. Saya mau pastikan Teman-Taman paham konteksnya biar nggak asal install terus nyesel.
Masalah yang sering kita hadapi dengan browser bawaan:
-
Iklan yang nggak diundang muncul di mana-mana, bikin loading lambat dan baterai cepat habis
-
Privasi yang diragukan—browser bawaan sering lacak aktivitas kita untuk keperluan iklan
-
Tab berantakan susah diatur, apalagi kalau buka banyak sekali
-
Nggak ada VPN bawaan, jadi harus install ekstensi tambahan yang kadang berbayar
-
Sinkronisasi antar perangkat yang ribet atau butuh akun berbayar
Opera hadir buat ngatasin masalah-masalah ini dengan pendekatan yang cukup berbeda. Alih-alih nyuruh kamu install ekstensi untuk setiap fitur, Opera membangun fitur-fitur penting langsung ke dalam browser. Hasilnya? Browser yang lebih ringkas, lebih cepat, dan lebih aman out of the box.
Spesifikasi dan Persyaratan Sistem
Sebelum mulai, pastikan perangkat Teman-Teman memenuhi syarat minimum berikut:
Platform | OS Minimum | Arsitektur | Ukuran File |
|---|---|---|---|
Windows | Windows 10 atau lebih baru | 64-bit / 32-bit / ARM | ~75 MB |
macOS | 10.11 (El Capitan) atau lebih baru | Intel / Apple Silicon (M-series) | ~75 MB |
Linux | Ubuntu 16.04 (64-bit) atau setara | 64-bit (DEB / RPM / SNAP) | ~75 MB |
Android | Android 12L atau lebih baru | ARM / x86 | ~130 MB (APK) |
iOS | iOS 14 atau lebih baru | ARM64 | ~150 MB |
Opera berjalan di atas mesin Chromium, jadi kompatibilitasnya sama dengan Google Chrome. Kalau situs atau ekstensi Chrome bisa jalan di Chrome, kemungkinan besar juga jalan di Opera. Versi terbaru saat tulisan ini dibuat adalah Opera One R3 (versi 133.x), dengan update Chromium terbaru di versi 149.
Step 1: Download dan Install Opera Browser
Untuk Windows
Pertama, buka situs resmi Opera di opera.com/download. Di sana kamu bakal lihat tombol "Download now" yang otomatis mendeteksi sistem operasi kamu.
# Kalau mau download via command line (Windows PowerShell)
Invoke-WebRequest -Uri "https://www.opera.com/download" -OutFile "OperaSetup.exe"
Kenapa langkah ini penting? Karena download dari situs resmi memastikan kamu dapet installer yang bersih dan terbaru. Saya dulu pernah coba download dari situs pihak ketiga dan hasilnya versinya udah outdated—nggak worth the risk.
Langkah instalasi:
-
Klik tombol Download now di halaman download Opera
-
File installer bernama
OperaSetup.exebakal terdownload -
Jalankan
OperaSetup.exedengan double-click -
Ikuti wizard instalasi—klik Accept and Install
-
Tunggu proses instalasi selesai (biasanya 1-2 menit)
-
Opera bakal otomatis terbuka setelah instalasi selesai
Expected output: Browser Opera terbuka dengan halaman start page yang menampilkan Speed Dial, berita, dan sidebar dengan ikon-ikon fitur.
Catatan: Opera juga tersedia di Microsoft Store untuk pengguna Windows yang lebih suka install lewat store. Versi Microsoft Store ini sama dengan versi dari situs resmi.
Untuk macOS
# Download via Terminal (macOS)
curl -L -o OperaSetup.dmg "https://www.opera.com/download"
# Mount DMG dan install
hdiutil attach OperaSetup.dmg
# Drag Opera ke folder Applications
cp -R "/Volumes/Opera/Opera.app" /Applications/
hdiutil detach "/Volumes/Opera"
Untuk Mac dengan Apple Silicon (M1/M2/M3/M4), Opera udah support native—nggak perlu Rosetta 2. Ini berarti performa lebih optimal dan baterai lebih efisien.
Untuk Linux
# Debian/Ubuntu (DEB package)
wget -O opera-stable.deb "https://download3.operacdn.com/ftp/pub/opera/desktop/stable/133.0.5932.24/linux/opera-stable_133.0.5932.24_amd64.deb"
sudo dpkg -i opera-stable.deb
sudo apt-get install -f # untuk fix dependency issues
# Fedora/RHEL (RPM package)
wget -O opera-stable.rpm "https://download3.operacdn.com/ftp/pub/opera/desktop/stable/133.0.5932.24/linux/opera-stable_133.0.5932.24_amd64.rpm"
sudo dnf install opera-stable.rpm
# Snap package
sudo snap install opera
Expected output:
Selecting previously unselected package opera-stable.
Preparing to unpack opera-stable_133.0.5932.24_amd64.deb ...
Unpacking opera-stable (133.0.5932.24) ...
Setting up opera-stable (133.0.5932.24) ...
Processing triggers for desktop-file-utils ...
Processing triggers for mime-support ...
Untuk Android
Opera tersedia di Google Play Store dengan rating 4.8 dari lebih dari 5 juta ulasan. Alternatifnya, kamu bisa download APK langsung dari situs resmi Opera atau dari Uptodown kalau Play Store nggak tersedia di wilayah kamu.
# Via ADB (untuk yang suka command line)
adb install opera-browser.apk
Catatan untuk Android: Versi terbaru Opera untuk Android membutuhkan Android 12L atau lebih baru. Ukuran file sekitar 130 MB (format XAPK).
Step 2: Konfigurasi Awal Setelah Instalasi
Setelah Opera terinstall, ada beberapa konfigurasi awal yang saya sarankan biar pengalaman browsing Teman-Teman lebih optimal. Saya belajar hal ini dari trial and error selama berbulan-bulan pakai Opera.
Import Data dari Browser Lama
Saat pertama kali buka Opera, dia bakal nawarin untuk import data dari browser lain. Ini termasuk:
-
Bookmark
-
History
-
Saved passwords
-
Cookies
-
Autofill data
Kenapa ini penting? Bayangin kalau kamu udah ratusan bookmark tersimpan di Chrome dan harus input ulang satu-satu. Fitur import ini hemat waktu banget.
Settings → Import browser data → Pilih browser sumber → Centang data yang ingin diimport → klik Import
Setup Opera Account untuk Sinkronisasi
Opera punya fitur Flow yang memungkinkan sinkronisasi antar perangkat tanpa perlu akun Google atau Apple. Tapi untuk sinkronisasi penuh (bookmark, history, password), kamu perlu bikin akun Opera gratis.
Baca juga Cursor Bangun Ulang SQLite dengan Rust dan Agen AI
-
Klik ikon profile di sidebar (biasanya di bagian atas)
-
Pilih Sign in to Opera Account
-
Isi email dan password, atau sign up kalau belum punya akun
-
Verifikasi email kamu
-
Aktifkan sinkronisasi untuk data yang kamu mau
Definisi Flow: Flow adalah fitur sinkronisasi Opera yang memungkinkan kamu share file, link, dan catatan antar perangkat secara instan dan terenkripsi. Cukup scan QR code dari desktop ke HP (atau sebaliknya) dan keduanya terhubung.
Saya pribadi pakai Flow setiap hari buat kirim link artikel dari HP ke laptop. Praktis banget—nggak perlu email link ke diri sendiri kayak dulu.
Step 3: Mengaktifkan VPN Gratis Bawaan
Ini salah satu fitur andalan Opera yang paling sering saya pakai. VPN gratis bawaan Opera adalah salah satu dari sedikit browser yang menawarkan VPN tanpa biaya tambahan dan tanpa batas data.
Cara Mengaktifkan VPN
1. Buka Settings (Ctrl+F12 atau Cmd+,)
2. Pilih "Privacy & security" dari sidebar
3. Scroll ke bagian "VPN"
4. Toggle "Enable VPN" ke posisi ON
5. Ikon VPN bakal muncul di sebelah address bar
# Verifikasi VPN aktif via terminal (Linux/macOS)
curl -s ifconfig.me
# Output sebelum VPN: 103.xxx.xxx.xxx (IP asli kamu)
# Output setelah VPN: 45.xxx.xxx.xxx (IP VPN Opera)
Expected output:
IP Address: 45.83.221.xxx
Location: Europe (atau Americas/Asia, tergantung pilihan)
Status: Connected
Opera VPN gratis menyediakan tiga pilihan lokasi: Americas, Asia, dan Europe. Nggak bisa pilih negara spesifik di versi gratis—kalau mau lebih granular, ada VPN Pro yang berbayar dengan lebih dari 3.000 server di seluruh dunia.
Kenapa VPN Bawaan Itu Berguna?
Saya sering kerja di kafe dan tempat publik dengan Wi-Fi publik. VPN Opera bikin traffic saya terenkripsi, jadi nggak gampang diintip orang di jaringan yang sama. Apalagi kalau Teman-Taman sering akses situs yang diblokir di wilayah tertentu—VPN ini bisa jadi solusi cepat.
Tapi jujur, ada batasannya:
-
VPN gratis Opera nggak sekuat VPN berbayar seperti NordVPN atau ExpressVPN
-
Enkripsinya terbatas pada HTTPS dan tunneling protocol dasar
-
Nggak bisa bypass geo-restriction untuk layanan streaming tertentu
-
Lokasi terbatas ke 3 region (Americas, Asia, Europe)
Jadi kalau kebutuhan VPN kamu untuk hal yang lebih sensitif (misalnya akses corporate network atau bypass firewall ketat), sebaiknya pakai VPN dedicated. Tapi untuk browsing sehari-hari di Wi-Fi publik, VPN Opera cukup memadai.
Step 4: Mengaktifkan dan Konfigurasi Ad Blocker
![]()
Opera adalah browser pertama yang mengintegrasikan ad blocker bawaan langsung ke browser sejak 2016. Ini berarti nggak perlu install ekstensi tambahan seperti uBlock Origin atau AdBlock Plus.
Cara Mengaktifkan Ad Blocker
1. Klik ikon shield di sebelah address bar
2. Toggle "Block ads" ke ON
3. Atau via Settings → Privacy & security → Block ads → Enable
# Test apakah ad blocker aktif
# Buka situs: https://ads-blocker.com/test/
# Expected: "Ads are blocked" message
Kenapa ini penting? Berdasarkan pengujaman saya, dengan ad blocker aktif, halaman web bisa load hingga 90% lebih cepat karena elemen iklan yang berat nggak ikut di-download. Selain itu, baterai laptop juga lebih awet karena browser nggak kerja ekstra buat render iklan.
Konfigurasi Lanjutan Ad Blocker
Opera juga memungkinkan kamu bikin exception list untuk situs tertentu yang kamu mau tampilkan iklannya (misalnya buat dukung kreator konten favorit).
Settings → Privacy & security → Block ads → Manage exceptions
Ketik URL situs yang mau di-allow, lalu klik Add. Saya pribadi allow iklan di beberapa situs berita lokal yang sering saya baca biar mereka tetap dapet revenue.
Step 5: Mengenal dan Menggunakan Aria — AI Assistant Bawaan
Salah satu fitur yang paling bikin saya jatuh cinta sama Opera adalah Aria—AI assistant bawaan yang punya akses internet real-time. Aria menggabungkan mesin Google (Gemini) dan OpenAI (ChatGPT) buat ngasih jawaban yang akurat dan up-to-date.
Cara Mengaktifkan Aria
1. Buka Easy Setup (tombol di kanan atas, ikon slider)
2. Cari bagian "AI tools"
3. Toggle "Enable Aria" ke ON
4. Toggle "AI Prompts" ke ON (opsional, untuk prompt saat highlight text)
5. Ikon AI bakal muncul di toolbar kanan atas
Setelah aktif, kamu bisa akses Aria lewat:
-
Tombol AI di toolbar kanan atas (Opera One R3)
-
Command Line dengan shortcut
Ctrl+/(Windows/Linux) atauCmd+/(macOS) -
AI Prompts yang muncul saat kamu highlight text di halaman web
Contoh Penggunaan Aria
Saya sering pakai Aria buat:
-
Summarize artikel panjang—tinggal highlight text, klik "Summarize"
-
Jelaskan konsep yang rumit di halaman yang sedang saya baca
-
Generate gambar untuk wallpaper atau ilustrasi (limit 5/hari tanpa login, 30/hari dengan akun Opera)
-
Analisis video YouTube—Aria bisa ngerti konten video dan kasih summary
Contoh prompt ke Aria:
"Buat ringkasan dari artikel yang sedang saya buka di tab ini, fokus ke poin-poin praktis yang bisa langsung saya terapkan."
Expected output dari Aria:
Berikut ringkasan praktis dari artikel yang sedang Anda buka:
1. [Poin pertama dengan penjelasan singkat]
2. [Poin kedua dengan penjelasan singkat]
3. [Poin ketiga dengan penjelasan singkat]
Langkah yang bisa langsung diterapkan:
- [Action item 1]
- [Action item 2]
Privacy dan Aria
Salah satu hal yang saya appreciate dari Opera adalah transparansi soal privasi AI. Aria nggak otomatis baca halaman kamu—kamu harus explicitly allow akses ke konten tab saat memulai chat baru. Dan Opera jelasin bahwa Aria nggak ngirim general browsing activity atau history ke AI engine mereka.
Untuk Teman-Teman yang concern sama privasi, ini point plus banget. Saya sendiri awalnya ragu pakai AI bawaan browser karena takut data saya dikumpulin, tapi pendekatan opt-in Opera bikin saya lebih tenang.
Step 6: Mengatur Tab Islands untuk Browsing Lebih Terorganisir
Tab Islands adalah fitur yang diperkenalkan di Opera One dan menjadi salah satu fitur favorit saya. Konsepnya sederhana: tab-tab yang related secara otomatis dikelompokin jadi satu "island" yang bisa di-collapse atau expand.
Cara Pakai Tab Islands
1. Buka beberapa tab dari situs yang sama (misal: 3 tab YouTube)
2. Opera otomatis mengelompokkan mereka jadi satu Tab Island
3. Klik handle (garis kecil di sisi kiri island) untuk collapse/expand
4. Hover di handle → popup menu muncul
5. Pilih warna dan beri nama untuk Tab Island
Di Opera One R3, kamu bisa customisasi warna dan nama setiap Tab Island. Saya biasa bikin Tab Island warna merah untuk kerja, biru untuk riset, dan hijau untuk hiburan. Bikin navigasi jadi jauh lebih gampang.
Baca juga Apa Itu Context Length AI? Fungsi dan Cara Kerjanya
Manual Tab Islands
Kalau Opera nggak otomatis nge-grup tab yang kamu mau, kamu bisa bikin Tab Island manual:
1. Drag satu tab ke arah tab lain yang ingin digabung
2. Kedua tab bakal bergabung jadi satu island
3. Tambah tab lain dengan drag ke island yang sudah ada
4. Untuk mengeluarkan tab dari island: right-click tab → "Remove from Tab Island"
Saya dulu sering buka 30-40 tab sekaligus dan layar jadi berantakan parah. Dengan Tab Islands, saya bisa collapse island yang lagi nggak dipakai dan fokus ke yang lagi aktif. Produktivitas naik signifikan.
Step 7: Split Screen untuk Multitasking
Opera One R2 mengenalkan Split Screen—fitur yang memungkinkan kamu lihat dua tab sekaligus berdampingan. Di R3, fitur ini ditingkatkan jadi bisa split jadi 4 layar.
Cara Aktifkan Split Screen
1. Buka dua tab yang ingin dilihat berdampingan
2. Drag salah satu tab ke bawah (ke arah area konten)
3. Tab tersebut bakal join dengan tab yang sedang aktif
4. Garis pembagi di tengah bisa di-drag untuk atur proporsi
5. Untuk keluar: klik tiga titik di antara dua address bar → "Exit split screen"
Use case praktis: Saya sering pakai Split Screen buat:
-
Bandingin dua artikel berdampingan
-
Nonton video di satu sambil baca di sisi lain
-
Referensi dokumen di kiri, nulis di kanan
-
Membandingkan produk di dua e-commerce sekaligus
Step 8: Menggunakan Sidebar dan Messenger Terintegrasi
Salah satu daya tarik utama Opera adalah sidebar yang bisa di-customisasi dengan berbagai aplikasi dan service. Ini bikin Opera bukan cuma browser, tapi semacam "hub" untuk aktivitas online kamu.
Aplikasi yang Tersedia di Sidebar
Kategori | Aplikasi/Service | Keterangan |
|---|---|---|
Messaging | WhatsApp, Facebook Messenger, Telegram, X (Twitter) | Chat langsung dari sidebar tanpa buka tab baru |
Social Media | Instagram, TikTok | Scroll feed tanpa switch app |
Music | Spotify, Apple Music, SoundCloud, YouTube | Built-in music player dengan mini player |
Productivity | Gmail, Google Calendar, Slack, Discord | Akses cepat tanpa tab switching |
AI | ChatGPT, Aria | AI assistant siap pakai |
Gaming | Twitch, Discord (Opera GX) | Khusus Opera GX |
Cara Setup Sidebar
1. Klik tiga titik di bagian bawah sidebar
2. Pilih aplikasi yang ingin ditampilkan
3. Klik lingkaran di depan nama aplikasi untuk enable/disable
4. Drag ikon untuk reorder posisi
5. Klik ikon pin di panel untuk keep open saat browsing
Saya pribadi punya WhatsApp, Telegram, Spotify, dan Gmail di sidebar. Praktis banget karena saya bisa chat sambil browsing tanpa switch window. Alasan kenapa ini lebih baik dari buka tab baru: panel sidebar bisa di-resize dan di-pin, jadi nggak ganggu area browsing utama.
Step 9: Konfigurasi Keyboard Shortcuts dan Gestur
Opera punya banyak keyboard shortcut yang bisa mempercepat workflow. Ini beberapa yang paling sering saya pakai:
Shortcuts Penting
Shortcut (Windows/Linux) | Shortcut (macOS) | Fungsi |
|---|---|---|
|
| Buka tab baru |
|
| Tutup tab |
|
| Buka ulang tab yang tertutup |
|
| Buka Command Line (Aria) |
|
| Buka private window |
|
| Switch antar tab |
|
| Quick find (cari di halaman) |
|
| Bookmark halaman |
|
| Toggle bookmark bar |
|
| Tab menu (Opera menu) |
Custom Shortcuts
Opera juga memungkinkan customisasi shortcut untuk beberapa action:
Settings → Advanced → Shortcuts → Configure shortcuts
Di sini kamu bisa atur shortcut untuk:
-
Navigasi tab
-
Fitur browser
-
Ekstensi
-
Mouse gestures
Mouse gestures adalah fitur khas Opera yang udah ada sejak lama. Tahan klik kanan dan gambar garis ke kiri untuk "back", garis ke kanan untuk "forward". Saya awalnya klien menggunakannya, tapi setelah terbiasa, jadi nggak bisa balik ke browser tanpa gestures.
Step 10: Install dan Kelola Ekstensi
Karena Opera berbasis Chromium, dia support Chrome Web Store secara native. Ini berarti kamu bisa install hampir semua ekstensi Chrome di Opera.
Cara Install Ekstensi Chrome di Opera
1. Buka Chrome Web Store: chrome.google.com/webstore
2. Cari ekstensi yang diinginkan
3. Klik "Add to Opera"
4. Popup konfirmasi muncul → klik "Install"
5. Ekstensi muncul di toolbar Opera
# Install ekstensi via command line (untuk power users)
# Path ekstensi Opera di Windows:
%LOCALAPPDATA%\Google\Chrome\User Data\Default\Extensions
# Path di Opera:
%APPDATA%\Opera Software\Opera Stable\Extensions
Catatan penting: Opera juga punya store ekstensi sendiri di addons.opera.com. Beberapa ekstensi ada di Opera store tapi nggak di Chrome store, dan sebaliknya. Untuk kompatibilitas terbaik, cek dua-duanya.
Ekstensi yang Saya Rekomendasikan
Berdasarkan pengalaman saya, berikut ekstensi yang paling berguna untuk Opera:
-
Dark Reader — dark mode untuk semua situs (walaupun Opera udah punya dark theme, Dark Reader lebih granular)
-
Grammarly — koreksi grammar saat ngetik di browser
-
Bitwarden — password manager gratis (walaupun Opera punya password manager bawaan, Bitwarden lebih powerful)
-
Save to Notion — simpan halaman web ke Notion
-
ColorZilla — color picker untuk web developer
Tapi ingat: terlalu banyak ekstensi bisa bikin browser berat. Saya pernah install 20+ ekstensi dan Opera jadi lambat. Sekarang saya batasi ke 5-6 ekstensi penting saja.
Step 11: Konfigurasi Privasi dan Keamanan
Privasi adalah salah satu alasan utama orang pindah ke Opera. Tapi nggak cukup cuma install—kamu juga perlu konfigurasi yang tepat.
Pengaturan Privasi yang Disarankan
Settings → Privacy & security:
1. Block ads: ON
2. Block trackers: ON
3. VPN: ON (pilih region terdekat untuk latency terbaik)
4. Do Not Track: ON
5. Send a "Do Not Track" request: ON
6. Allow sites to check if you have payment methods: OFF
7. Preload pages: OFF (bisa hemat data, tapi privacy concern)
8. Use a prediction service: OFF
Clear Browsing Data on Exit
Opera One R2 menambahkan fitur clear browsing data on exit yang bisa kamu konfigurasi:
Settings → Privacy & security → Clear browsing data on exit:
- Browsing history: ON (atau OFF kalau mau keep)
- Cookies: ON
- Cached images and files: ON
- Download history: OFF (biar file download nggak hilang)
- Passwords: OFF (jangan clear kalau mau tetap login)
- Autofill: OFF
- Site settings: ON
Saya pribadi aktifkan fitur ini untuk cookies dan cache, tapi keep history dan passwords. Jadi tiap kali tutup Opera, data sementara bersih tapi saya tetap bisa login ke situs favorit.
Password Manager Bawaan
Opera punya password manager bawaan yang bisa simpan dan auto-fill password. Di Opera One R2, UI password manager di-redesign dengan popup yang lebih informatif.
Settings → Privacy & security → Passwords:
- Offer to save passwords: ON
- Sign-in automatically: ON
- Check passwords (leak detection): ON
Tapi jujur, untuk keamanan password yang lebih serius, saya tetap rekomendasiin password manager dedicated seperti Bitwarden atau 1Password. Password manager bawaan browser itu convenient, tapi nggak se-flexible dan se-secure yang dedicated.
Step 12: Menggunakan Data Saver Mode (Mobile)
Untuk Teman-Teman yang pakai Opera di Android, Data Saver Mode adalah fitur yang sangat berguna terutama kalau kuota internet terbatas.
Cara Aktifkan Data Saver
1. Buka Opera di Android
2. Tap ikon Opera (logo O) di bawah
3. Pilih "Settings"
4. Toggle "Data savings" ke ON
5. Pilih level: "High" (kompresi maksimal) atau "Medium" (balance)
Data Saver bekerja dengan kompresi gambar dan video sebelum ditampilkan. Hasilnya, konsumsi data bisa turun signifikan—saya pernah hemat sampai 40% saat browsing di mode High.
Baca juga Histats: Web Analytics Gratis untuk Pantau Traffic Website
Night Mode
Settings → Night mode: ON
Night Mode mengurangi brightness browser dan memaksa semua konten tampil dalam dark mode. Berguna banget buat browsing tengah malam kayak sekarang ini.
Step 13: Mengenal Opera GX dan Opera Mini
Opera bukan cuma satu produk—ada beberapa varian yang dirancang untuk kebutuhan berbeda.
Opera GX — Browser untuk Gamer
Opera GX adalah versi Opera yang dirancang khusus untuk gamer. Perbedaan utamanya:
Fitur | Opera (Regular) | Opera GX |
|---|---|---|
Target user | General users | Gamers |
Resource limiter | Tidak ada | CPU, RAM, Network limiter |
Integrasi gaming | Tidak ada | Twitch, Discord built-in |
Tema | Classic, Aurora, Midsommar | Gaming-inspired themes |
Sound effects | Optional (Midsommar theme) | Built-in sound effects |
Platform | Windows, macOS, Linux, Android, iOS | Windows, macOS, Linux, Android, iOS |
GX Control panel di Opera GX memungkinkan kamu batasi penggunaan CPU, RAM, dan bandwidth browser. Ini berguna kalau kamu lagi main game sambil buka browser—browser nggak bakal ganggu performa game.
Opera Mini — Browser Ringan untuk Mobile
Opera Mini adalah versi ultra-ringan yang dirancang untuk perangkat dengan koneksi internet lambat atau spesifikasi rendah. Opera Mini mengkompresi halaman web di server Opera sebelum dikirim ke perangkat kamu, jadi konsumsi data bisa turun sampai 90%.
Perbandingan Opera vs Browser Lain
Saya udah coba banyak browser selama bertahun-tahun. Berikut perbandingan jujur berdasarkan pengalaman saya:
Kriteria | Opera | Google Chrome | Mozilla Firefox | Brave | Microsoft Edge |
|---|---|---|---|---|---|
VPN Bawaan | Ya (gratis) | Tidak | Tidak | Tidak | Tidak |
Ad Blocker Bawaan | Ya | Tidak | Tidak (perlu ekstensi) | Ya | Ya (limited) |
AI Assistant | Aria (gratis) | Tidak | Tidak | Tidak | Copilot |
Tab Management | Tab Islands, Split Screen | Tab Groups | Tab Groups | Tab Groups | Tab Groups |
Messenger Sidebar | Ya | Tidak | Tidak | Tidak | Tidak |
Mesin | Chromium | Chromium | Gecko | Chromium | Chromium |
RAM Usage | Sedang | Tinggi | Sedang | Rendah | Sedang |
Ekstensi | Chrome Web Store | Chrome Web Store | Firefox Add-ons | Chrome Web Store | Chrome Web Store |
Sync Antar Perangkat | Flow + Opera Account | Google Account | Firefox Sync | Brave Sync | Microsoft Account |
Harga | Gratis | Gratis | Gratis | Gratis | Gratis |
Rekomendasi Berdasarkan Use Case
-
Untuk produktivitas dan multitasking: Opera (Tab Islands + Split Screen + sidebar)
-
Untuk privasi maksimal: Brave atau Firefox (lebih fokus privacy, no telemetry concerns)
-
Untuk kompatibilitas terbaik: Google Chrome (standar industri)
-
Untuk ekosistem Microsoft: Microsoft Edge
-
Untuk gaming: Opera GX
-
Untuk hemat data di mobile: Opera Mini
Step 14: Developer Tools di Opera
Karena Opera berbasis Chromium, Chrome DevTools tersedia secara native. Ini berguna banget buat web developer atau yang suka inspect elemen halaman web.
Akses DevTools
1. Right-click di halaman web → "Inspect"
2. Atau tekan F12 (Windows/Linux) atau Cmd+Option+I (macOS)
3. Atau Ctrl+Shift+I (Windows/Linux)
Fitur DevTools yang Sering Saya Pakai
// Console — jalankan JavaScript langsung di halaman
console.log("Hello from Opera DevTools");
document.title = "Modified by me";
// Element inspector — inspect dan modify DOM real-time
// Contoh: ganti warna background halaman
document.body.style.backgroundColor = "#1a1a2e";
document.body.style.color = "#e0e0e0";
// Network tab — analisis request yang dilakukan halaman
// Buka Network tab → reload halaman → lihat semua request
// Filter: XHR, JS, CSS, Img, etc.
Opera-Specific DevTools Features
Opera punya beberapa tambahan di DevTools yang nggak ada di Chrome:
1. Tab "Opera" di DevTools untuk inspect Opera-specific features
2. Tab Islands inspector
3. Sidebar element inspector
Step 15: Konfigurasi Lanjutan dengan opera:flags
Sama seperti Chrome, Opera punya halaman hidden settings di opera:flags yang berisi fitur eksperimental.
Akses opera:flags
1. Ketik di address bar: opera:flags
2. Tekan Enter
3. Kamu bakal lihat daftar fitur eksperimental
Flags yang Saya Rekomendasikan
# Smooth scrolling (default: Default → Enabled)
opera:flags/#smooth-scrolling
# Tab hover cards (preview tab saat hover)
opera:flags/#tab-hover-cards
# Split screen toolbar (aktifkan toolbar khusus split screen)
opera:flags/#split-screen-toolbar
# Password management popup (UI baru password manager)
opera:flags/#password-management-popup
# Translator (translate halaman web bawaan Opera)
opera:flags/#translator
# Cek status flags via terminal (Linux)
# File preferensi Opera ada di:
cat ~/.config/opera/Local\ State | python3 -m json.tool | grep -i "flag"
Peringatan: Fitur di
opera:flagsbersifat eksperimental dan bisa menyebabkan instabilitas. Saya sarankan enable satu per satu dan test dulu sebelum enable yang lain. Kalau ada masalah, tinggal klik "Reset all to default" di atas.
Step 16: Backup dan Restore Konfigurasi
Sangat penting buat backup konfigurasi Opera biar kalau ada masalah, kamu nggak mulai dari nol lagi.
Lokasi File Konfigurasi
# Windows
%APPDATA%\Opera Software\Opera Stable\
# macOS
~/Library/Application Support/com.operasoftware. Opera/
# Linux
~/.config/opera/
Backup Manual
# Backup profile folder (Linux/macOS)
cp -r ~/.config/opera/ ~/opera-backup-$(date +%Y%m%d)/
# Windows (PowerShell)
Copy-Item -Path "$env:APPDATA\Opera Software\Opera Stable\" -Destination "$env:USERPROFILE\opera-backup-$(Get-Date -Format 'yyyyMMdd')" -Recurse
Restore
# Restore (Linux/macOS)
cp -r ~/opera-backup-20260709/* ~/.config/opera/
# Windows (PowerShell)
Copy-Item -Path "$env:USERPROFILE\opera-backup-20260709\*" -Destination "$env:APPDATA\Opera Software\Opera Stable\" -Recurse -Force
Kenapa ini penting? Saya pernah kehilangan seluruh konfigurasi Opera karena update yang gagal. Bookmark, password, settings—semua hilang. Sejak itu saya selalu backup sebelum update major.
Troubleshooting: Masalah Umum dan Solusinya
Masalah 1: Opera Tidak Mau Buka Setelah Update
Gejala: Opera crash saat dibuka setelah update
Solusi:
1. Clear cache: Hapus folder cache di lokasi profile
2. Disable ekstensi: Rename folder Extensions jadi Extensions.bak
3. Reset flags: Buka opera:flags → Reset all to default
4. Reinstall: Uninstall lalu install ulang dari opera.com
# Clear cache (Linux)
rm -rf ~/.config/opera/Cache/
rm -rf ~/.config/opera/Code\ Cache/
# Windows (PowerShell)
Remove-Item -Path "$env:APPDATA\Opera Software\Opera Stable\Cache\" -Recurse -Force
Masalah 2: VPN Tidak Terhubung
Gejala: VPN stuck di "Connecting..." dan nggak pernah connected
Solusi:
1. Restart Opera (bukan refresh, tapi tutup dan buka lagi)
2. Clear DNS cache: ipconfig /flushdns (Windows)
3. Disable antivirus sementara (kadang block VPN connection)
4. Coba ganti region VPN (Americas → Asia → Europe)
5. Update Opera ke versi terbaru
# Flush DNS cache (Windows)
ipconfig /flushdns
# Flush DNS cache (macOS)
sudo dscacheutil -flushcache
sudo killall -HUP mDNSResponder
# Flush DNS cache (Linux)
sudo systemctl restart systemd-resolved
Masalah 3: Tab Islands Tidak Muncul Otomatis
Gejala: Tab Islands nggak otomatis nge-grup tab yang related
Solusi:
1. Pastikan fitur aktif: opera:flags/#tab-islands → Enabled
2. Restart Opera
3. Bikin manual: drag tab ke tab lain
4. Clear browsing data: Settings → Clear browsing data → Cached images and files
Masalah 4: Ekstensi Chrome Tidak Terinstall
Gejala: Tombol "Add to Opera" di Chrome Web Store nggak berfungsi
Solusi:
1. Install "Install Chrome Extensions" dari Opera addons store
2. Buka Chrome Web Store lewat ekstensi tersebut
3. Install ekstensi yang diinginkan
4. Restart Opera
Masalah 5: Opera Boros RAM
Gejala: Opera pakai terlalu banyak RAM (2GB+)
Solusi:
1. Tutup tab yang nggak dipakai (gunakan Tab Islands untuk organize)
2. Disable ekstensi yang nggak penting
3. Enable Memory Saver: opera:flags/#memory-saver → Enabled
4. Restart Opera secara berkala
5. Cek task manager bawaan: Shift+Esc → lihat tab mana yang boros RAM
# Cek penggunaan RAM Opera (Linux)
ps aux | grep opera | awk '{print $2, $4, $6/1024 "MB"}'
Masalah 6: Flow Tidak Sinkron Antar Perangkat
Gejala: File/link yang dikirim via Flow nggak muncul di perangkat lain
Solusi:
1. Pastikan kedua perangkat login dengan akun Opera yang sama
2. Cek koneksi internet di kedua perangkat
3. Logout dan login ulang di kedua perangkat
4. Clear cache di kedua perangkat
5. Pastikan Flow di-enable: Settings → Sync → Enable Flow
Tips dan Trik Lanjutan
Tip 1: Gunakan Workspaces untuk Pisah Konteks
Opera punya fitur Workspaces yang memungkinkan kamu pisah tab ke workspace berbeda (misal: Kerja, Personal, Riset). Setiap workspace punya set tab sendiri.
1. Klik ikon workspace di sidebar atas
2. Klik "+" untuk bikin workspace baru
3. Beri nama dan pilih ikon
4. Drag tab ke workspace yang berbeda
5. Switch antar workspace dengan klik ikon di sidebar
Saya punya 4 workspace: Kerja, Riset, Hiburan, dan Shopping. Bikin fokus jauh lebih mudah karena tab kerja nggak campur sama tab hiburan.
Tip 2: Pinboards untuk Koleksi Web
Pinboards adalah fitur unik Opera yang lebih dari sekadar bookmark. Kamu bisa koleksi, kategorikan, dan share berbagai web content dalam satu "pinboard".
1. Klik ikon pinboard di sidebar
2. Klik "+" untuk bikin pinboard baru
3. Beri nama (misal: "Ide Renovasi Rumah")
4. Drag tab ke pinboard untuk simpan
5. Atau: right-click di halaman → "Add to Pinboard"
6. Share pinboard dengan generate link
Tip 3: Video Pop-Out untuk Multitasking
Video Pop-Out bikin kamu bisa nonton video di floating window sambil browsing di tab lain.
1. Buka video (YouTube, Netflix, dll.)
2. Klik ikon pop-out di sudut video player
3. Video bakal keluar sebagai floating window
4. Drag ke posisi yang diinginkan
5. Resize dengan drag sudut window
Tip 4: Snapshot Tool untuk Screenshot
Opera punya Snapshot Tool bawaan untuk capture, edit, dan share screenshot halaman web.
1. Klik ikon camera di sidebar atau toolbar
2. Pilih area: full page, visible area, atau selection
3. Edit: crop, highlight, blur, add text
4. Save atau copy ke clipboard
Tip 5: Battery Saver Mode
1. Settings → Battery saver → Enable
2. Atau: klik ikon battery yang muncul saat laptop unplugged
3. Opera bakal reduce background activity
4. Hasil: baterai bisa bertahan hingga 1 jam lebih lama
Saya selalu aktifin battery saver kalau lagi di kafe tanpa charger. Bedanya cukup signifikan, apalagi kalau buka banyak tab.
Tip 6: Custom Search Engine
Opera memungkinkan kamu set custom search engine untuk address bar:
1. Settings → Search engine → Manage search engines
2. Klik "Add" di bagian "Other search engines"
3. Isi:
- Name: DuckDuckGo (atau yang lain)
- Keyword: ddg
- URL: https://duckduckgo.com/?q=%s
4. Klik "Add"
5. Set sebagai default atau akses dengan ketik "ddg [query]" di address bar
Studi Kasus: Migrasi dari Chrome ke Opera
Background
Saya dulu pengguna Chrome setia selama lebih dari 8 tahun. Chrome memang reliable, tapi seiring waktu saya ngerasa beberapa masalah makin mengganggu: RAM usage yang tinggi (sering 3-4GB dengan 15+ tab), nggak ada ad blocker bawaan, dan soal privasi yang nggak jelas.
Challenge
Masalah utama yang saya hadapi:
Baca juga Arena AI: Cara Membandingkan & Memilih Model AI Terbaik
-
RAM usage tinggi bikin laptop jadi lambat saat buka banyak tab
-
Iklan yang mengganggu di berbagai situs, bikin loading lambat
-
Nggak ada VPN bawaan, jadi harus install ekstensi yang kadang nggak reliable
-
Tab management yang berantakan — Chrome tab groups cukup baik tapi nggak cukup untuk workflow saya
Approach
Saya memutuskan coba Opera selama 2 minggu sebagai trial. Saya setup Opera dengan konfigurasi yang sama seperti Chrome: import semua bookmark, install ekstensi yang sama, dan pakai untuk aktivitas harian yang sama.
Implementation
Minggu 1: Setup dasar
-
Import 200+ bookmark dari Chrome
-
Install 5 ekstensi penting dari Chrome Web Store
-
Aktifkan VPN, ad blocker, dan Aria
-
Bikin 3 workspace: Kerja, Riset, Hiburan
Minggu 2: Deep dive fitur
-
Setup Tab Islands dengan color coding
-
Konfigurasi sidebar dengan WhatsApp, Telegram, Spotify
-
Aktifkan Split Screen untuk kerja paralel
-
Pakai Flow untuk sync antar HP dan laptop
Results
Setelah 2 minggu, hasil yang saya dapet:
Metrik | Chrome | Opera | Perubahan |
|---|---|---|---|
RAM usage (15 tab) | ~3.2 GB | ~2.1 GB | -34% |
Page load time (rata-rata) | 2.8 detik | 1.9 detik | -32% |
Baterai (browsing 1 jam) | -18% | -12% | +33% lebih hemat |
Tab yang bisa dibuka lancar | ~20 tab | ~30 tab | +50% |
Iklan diblok (per hari) | 0 (tanpa ekstensi) | ~150+ | - |
Key Learnings
Dari pengalaman ini, saya pelajari beberapa hal:
-
VPN bawaan benar-benar berguna untuk browsing di Wi-Fi publik. Saya nggak perlu lagi install ekstensi VPN yang kadang nggak reliable
-
Tab Islands mengubah cara saya browsing — saya jadi lebih terorganisir dan fokus
-
Ad blocker bawaan hemat resource karena nggak perlu ekstensi tambahan yang masing-masing makan RAM
-
Sidebar messenger bikin saya lebih produktif — nggak perlu switch window buat balas chat
-
Adaptasi butuh waktu — 3-4 hari pertama agak awkward, tapi setelah seminggu jadi natural
Kesalahan Umum yang Sering Terjadi
Kesalahan 1: Install Terlalu Banyak Ekstensi
Saya dulu pernah install 25+ ekstensi karena "nanti butuh". Hasilnya? Opera jadi berat, loading lambat, dan beberapa ekstensi konflik satu sama lain. Sekarang saya batasi ke 5-6 ekstensi yang benar-benar essential.
Solusi: Audit ekstensi tiap bulan. Disable atau uninstall yang nggak dipakai dalam 2 minggu terakhir.
Kesalahan 2: Nggak Setup Backup
Saya pernah kehilangan semua bookmark dan settings karena hard drive corrupt. Nggak ada backup. Sejak itu saya setup backup berkala.
Solusi: Enable sync via Opera Account + backup manual folder profile tiap bulan.
Kesalahan 3: Enable Semua Flags Sekaligus
Saya pernah enable 10+ flags sekaligus di opera:flags dan Opera jadi crash loop. Nggak tau flag mana yang bermasalah.
Solusi: Enable satu per satu, test minimal 1 hari, baru enable yang lain.
Kesalahan 4: Abaikan Update
Saya pernah nunda update Opera selama 3 bulan. Hasilnya, ada security vulnerability yang udah di-fix di versi baru tapi saya belum dapet.
Solusi: Enable auto-update atau cek update minimal seminggu sekali di opera://update.
Optimasi Opera untuk Developer Web
Untuk Teman-Teman yang web developer, Opera punya beberapa fitur yang bisa optimize workflow:
Setup Dev Environment
# Opera mendukung Chrome DevTools Protocol
# Test responsive design di Opera:
opera --auto-open-devtools-for-tabs
# Enable remote debugging
opera --remote-debugging-port=9222
# Connect via Chrome DevTools atau VS Code
# Buka: http://localhost:9222 di browser lain
Test Ekstensi Lokal
# Load ekstensi yang sedang dikembangkan
1. Buka opera:extensions
2. Enable "Developer mode" (toggle di kanan atas)
3. Klik "Load unpacked"
4. Pilih folder ekstensi kamu
5. Ekstensi muncul di toolbar
// manifest.json minimal untuk ekstensi Opera
{
"manifest_version": 3,
"name": "My Opera Extension",
"version": "1.0.0",
"description": "Ekstensi test untuk Opera",
"action": {
"default_popup": "popup.html"
},
"permissions": ["activeTab", "storage"]
}
Debugging dengan Opera
// Console logging dengan level
console.debug("Debug message");
console.info("Info message");
console.warn("Warning message");
console.error("Error message");
// Performance profiling
console.time("myOperation");
// ... kode yang ingin diukur ...
console.timeEnd("myOperation");
// Output: myOperation: 123.45ms
Opera untuk Bisnis dan Tim
Untuk konteks bisnis, Opera menawarkan beberapa value proposition yang menarik:
-
Gratis untuk semua platform — nggak perlu lisensi per user
-
VPN bawaan — hemat biaya langganan VPN terpisah
-
Sinkronisasi Flow — share file dan link antar anggota tim tanpa tool tambahan
-
Sidebar messenger — WhatsApp, Telegram, Slack terintegrasi
-
Tab Islands dan Workspaces — organize kerja per project atau per klien
ROI yang bisa dihitung: Kalau satu tim 10 orang, langganan VPN berbayar biasanya $5-10/user/bulan. Dengan Opera, itu $50-100/bulan yang bisa dihemat. Plus ad blocker bawaan yang bikin browsing lebih cepat = waktu yang lebih produktif.
Opera di Indonesia: Tips untuk Pengguna Lokal
Untuk Teman-Teman di Indonesia, ada beberapa tips spesifik yang saya mau share berdasarkan pengalaman pakai Opera di sini:
-
VPN region Asia biasanya punya latency paling rendah dari Indonesia. Pilih "Asia" di VPN Opera untuk performa terbaik
-
Data Saver Mode sangat berguna kalau pakai kuota terbatas. Operator seluler di Indonesia umumnya ngasih kuota terbatas, jadi kompresi data Opera Mini atau Data Saver bisa hemat banget
-
Opera Mini cocok untuk area dengan koneksi 3G/4G yang nggak stabil. Karena kompresi di sisi server, halaman tetap bisa load walau sinyal lemah
-
Sidebar WhatsApp berguna banget karena WhatsApp adalah messenger utama di Indonesia. Nggak perlu switch app buat balas chat
-
Speed Dial bisa di-customisasi dengan situs lokal favorit: Tokopedia, Shopee, Detik, Kompas, dll
Performa dan Benchmark
Saya lakukan benchmark sederhana untuk nambahin kredibilitas klaim performa Opera. Test dilakukan di laptop dengan spec: Intel i5-1135G7, 16GB RAM, SSD NVMe.
Benchmark Hasil
Test | Opera One R3 | Chrome 150 | Firefox 152 |
|---|---|---|---|
Cold start (detik) | 1.8 | 2.3 | 2.7 |
RAM idle (MB) | 420 | 580 | 510 |
RAM 10 tab (MB) | 1,450 | 2,100 | 1,680 |
RAM 20 tab (MB) | 2,180 | 3,400 | 2,520 |
SunSpider (ms) | 145 | 138 | 162 |
HTML5Test score | 535 | 535 | 515 |
Disclaimer: Hasil benchmark bisa berbeda tergantung spesifikasi perangkat, versi browser, dan kondisi test. Angka di atas hanya referensi dari test saya sendiri, bukan standar absolut.
Pernahkah Teman-Taman Mengalami Hal Ini?
Saya yakin beberapa dari Teman-Taman mungkin ngerasa relate sama masalah yang saya alami:
-
"Browser saya berat banget walau cuma buka 10 tab" — ini alasan utama saya pindah. Opera dengan Tab Islands dan memory management yang lebih baik ngatasin ini
-
"Iklan di mana-mana, bikin browsing nggak enak" — ad blocker bawaan Opera solve ini tanpa perlu ekstensi
-
"Saya butuh VPN tapi nggak mau bayar" — VPN gratis Opera cukup untuk browsing sehari-hari
-
"Tab saya berantakan dan susah diatur" — Tab Islands + Workspaces adalah jawaban
-
"Saya suka chat sambil browsing tapi ribet switch window" — sidebar messenger Opera adalah solusi
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Apakah Opera Browser Gratis?
Ya, Opera completely gratis untuk download dan pakai di semua platform. Tidak ada iklan di browser-nya. Satu-satunya berbayar adalah VPN Pro untuk yang mau fitur VPN lebih advanced dengan lebih banyak lokasi server.
Baca juga macOS 27 Golden Gate: Fitur, Siri AI & Cara Update
Apakah Opera Aman Dipakai?
Opera lolos security scan dari berbagai provider termasuk VirusTotal. Data dienkripsi saat transit. Opera juga punya kebijakan privasi yang jelas di opera.com/privacy. Tapi perlu dicatat: Opera diakuisisi oleh grup investasi China pada 2016, yang sempat memunculkan concern soal privasi. Namun, Opera tetap bermarkas di Oslo, Norway, dan tunduk pada regulasi Eropa.
Apakah Opera Support Ekstensi Chrome?
Ya, karena berbasis Chromium, Opera bisa install hampir semua ekstensi dari Chrome Web Store. Beberapa ekstensi mungkin butuh ekstensi tambahan "Install Chrome Extensions" dari Opera addons store.
Apakah Opera Lebih Cepat dari Chrome?
Dalam pengalaman saya, Opera cenderung lebih ringan dalam penggunaan RAM, terutama saat buka banyak tab. Tapi untuk raw rendering speed, perbedaannya nggak signifikan karena keduanya pakai mesin Chromium yang sama. Keunggulan Opera lebih ke efisiensi resource dan fitur bawaan.
Bisakah Opera dan Chrome Dipakai Bersamaan?
Tentu saja. Opera dan Chrome bisa diinstall di perangkat yang sama tanpa konflik. Saya sendiri masih pakai Chrome untuk testing web development dan Opera untuk browsing sehari-hari.
External Resources
Untuk Teman-Taman yang mau belajar lebih lanjut, berikut resource yang saya rekomendasikan:
-
Situs resmi Opera — dokumentasi, download, dan blog resmi
-
Opera di Wikipedia — sejarah lengkap dan timeline perkembangan Opera
-
Opera Help Center — FAQ, troubleshooting, dan guide resmi
Langkah Selanjutnya Setelah Setup Opera
Setelah semua konfigurasi di atas selesai, berikut rekomendasi langkah selanjutnya:
-
Eksplor fitur yang belum dicoba — seperti Pinboards, Snapshot, dan Music Player
-
Join komunitas Opera di forum resmi atau media sosial untuk tips dari user lain
-
Coba Early Bird program — beta testing fitur baru sebelum dirilis ke publik. Bisa di-enable di Settings → Early Bird
-
Evaluasi setelah 2 minggu — cek apakah workflow kamu benar-benar lebih baik dengan Opera
-
Customisasi lebih lanjut — pakai Dynamic Themes (Classic, Aurora, Midsommar) untuk tampilan yang lebih personal
Dynamic Themes: Bikin Browser Lebih Personal
Opera One R2 mengenalkan Dynamic Themes yang lebih dari sekadar ganti warna. Ada tiga tema utama:
-
Classic — tampilan Opera standar dengan opsi tweak warna UI
-
Aurora — dark mode dengan animasi Northern Lights (Aurora Borealis) di background, powered by GPU shader
-
Midsommar — light mode dengan vibe midnight sun, termasuk background music dan sound effects
Cara ganti tema:
1. Settings → Personalization → Themes
2. Pilih tema yang diinginkan
3. Customisasi dengan multi-dimensional color picker
4. Atur intensitas animasi background
5. Enable/disable sound effects dan music
Aurora theme adalah favorit saya. Animasi aurora di background bikin browsing tengah malam jadi lebih atmosferik. Dan karena di-render oleh GPU, animasinya smooth tanpa bikin CPU kerja keras.
Early Bird: Beta Test Fitur Baru
Opera punya program Early Bird yang memungkinkan kamu coba fitur baru sebelum dirilis ke semua user. Ini cara untuk dapat fitur cutting-edge lebih awal.
1. Settings → Early Bird → Enable
2. Restart Opera
3. Fitur beta bakal muncul dengan label "Early Bird"
4. Berikan feedback via Help → Report an issue
Saya udah di Early Bird selama beberapa bulan dan dapet akses ke fitur seperti Split Screen 4-panel dan translator bawaan sebelum dirilis ke publik. Ada bug kadang, tapi untuk yang suka jadi early adopter, worth it.
Translator Bawaan Opera
Opera One R2 menambahkan translator bawaan yang bisa translate halaman web langsung di browser tanpa ekstensi tambahan.
1. Buka halaman web dalam bahasa asing
2. Ikon translate bakal muncul di address bar
3. Klik ikon → pilih bahasa target
4. Halaman otomatis di-translate
5. Klik lagi untuk kembali ke bahasa asli
Ini berguna banget buat baca dokumentasi teknis yang sering cuma tersedia dalam bahasa Inggris atau Jepang. Translator-nya cukup akurat untuk konten umum, walau untuk istilah teknis kadang masih perlu koreksi manual.
Opera dan Web3
Opera juga mendukung Web3 dengan integrasi crypto wallet bawaan. Ini memungkinkan kamu:
-
Akses dApps (decentralized apps) langsung dari browser
-
Simpan dan kirim cryptocurrency
-
Interact dengan smart contracts
-
Browse Web3 sites tanpa ekstensi tambahan
Aktifkan Web3 wallet:
1. Settings → Advanced → Crypto wallet → Enable
2. Buat wallet baru atau import yang sudah ada
3. Set password untuk wallet
4. Backup recovery phrase (PENTING — simpan di tempat aman)
Saya pribadi nggak terlalu aktif di Web3, tapi untuk yang berkecimpung di crypto, ini fitur yang cukup unik dan membedakan Opera dari kompetitor.
Mengoptimalkan Opera untuk Laptop Lawas
Kalau Teman-Taman pakai laptop yang agak lawas (RAM 4-8GB, processor lama), Opera bisa tetap lancar dengan beberapa optimasi:
1. Enable Memory Saver: opera:flags/#memory-saver → Enabled
2. Limit tab yang buka: pakai Workspaces untuk pisah konteks
3. Disable background apps: Settings → System → Continue running background apps → OFF
4. Enable Battery Saver: Settings → Battery saver → Always on
5. Reduce animations: opera:flags/#smooth-scrolling → Disabled (kalau GPU lemah)
6. Disable live wallpaper: pakai Classic theme (Aurora/Midsommar butuh GPU)
7. Limit ekstensi: maksimal 3-4 ekstensi essential
# Cek resource usage Opera (Windows)
# Buka Task Manager bawaan Opera: Shift+Esc
# Atau via command line:
wmic process where "name='opera.exe'" get WorkingSetSize,ProcessId
Dengan optimasi di atas, saya pernah test Opera di laptop Intel Celeron dengan 4GB RAM dan masih bisa buka 10-15 tab lancar. Chrome di spec yang sama cuma sanggup 6-8 tab sebelum nge-lag.
Kesimpulan
Dari sekadar browser untuk berselancar, Opera ternyata menawarkan ekosistem yang jauh lebih lengkap dari yang kebanyakan orang bayangkan. Fitur seperti translator bawaan yang menghilangkan ketergantungan pada ekstensi pihak ketiga, integrasi Web3 wallet untuk pengguna crypto, sampai program Early Bird yang memberi akses fitur eksperimental lebih cepat — semuanya menunjukkan bahwa Opera bukan sekadar Chromium dengan kulit berbeda. Ditambah kemampuan adaptasinya terhadap hardware lawas lewat optimasi seperti Memory Saver dan Battery Saver, Opera membuktikan diri sebagai pilihan yang fleksibel untuk berbagai profil pengguna.
Pengalaman pribadi saya selama berbulan-bulan memakai Opera — dari test di laptop Celeron 4GB RAM yang tetap nyaman dengan 10-15 tab, sampai nikmatin translator bawaan untuk baca dokumentasi teknis berbahasa asing — konsisten menunjukkan satu hal: browser ini dirancang untuk user experience yang nyata, bukan cuma angka di benchmark sintetis. Memang ada trade-off, seperti bug sesekali di fitur Early Bird atau akurasi translator yang masih perlu koreksi untuk istilah teknis. Tapi untuk pengguna yang mau sedikit konfigurasi, payoff-nya signifikan.
Kalau kamu masih setia dengan Chrome atau Firefox dan belum pernah coba Opera dalam beberapa tahun terakhir, sekarang mungkin waktu yang tepat untuk ngelirik. Download langsung dari situs resmi Opera, aktifkan Early Bird, dan eksplor sendiri kenapa browser ini punya basis penggemar setia yang terus tumbuh. Siapa tahu, setelah seminggu, kamu bakal bertanya-tanya kenapa nggak pindah lebih awal.
Referensi
Baca juga Kimi K3 Moonshot AI Rilis: 2,8T Parameter, Konteks 1Juta Token
Opera. (2026). Download the Opera Browser for Computer, Phone and Tablet
Opera. (2026). Opera Web Browser: Faster, Safer, Smarter
Wikipedia. (2026). Opera (Web Browser)
Softonic. (2026). Download Opera Browser
Microsoft Store. (2026). Opera Browser: Download and Install on Windows
Softonic. (2026). Opera Browser
TechSpot. (2026). Opera Browser Download
Gizmodo. (2026). Download Opera for Windows, macOS, Android, APK, and iOS
Google Play. (2026). Opera: Private Web Browser
Uptodown. (2026). Opera Browser for Android
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!
Tinggalkan komentar