Programming
Zed Editor: Code Editor Cepat Berbasis Rust untuk Developer
Daftar isi
- Apa Itu Zed Editor?
- Kenapa Banyak Developer Pindah ke Zed?
- Perbandingan Zed vs VS Code vs Cursor
- Step 1: Cek Apakah Sistem Kamu Mendukung
- Step 2: Install Zed di macOS
- Step 3: Install Zed di Linux
- Step 4: Install Zed di Windows
- Step 5: Konfigurasi Dasar Zed
- Step 6: Atur Keybindings
- Step 7: Aktifkan Vim Mode (Opsional tapi Sangat Direkomendasikan)
- Step 8: Pahami Multi-Buffer Editing
- Step 9: Pakai Integrated Terminal
- Step 10: Setup Language Server Protocol (LSP)
- Step 11: Konfigurasi AI Assistant
- Step 12: Kolaborasi Real-Time
- Step 13: Git Integration
- Step 14: Install dan Manage Extensions
- Step 15: Custom Tasks
- Step 16: Project-Wide Search
- Step 17: Remote Development
- Step 18: Edit Prediction (Zeta2)
- Step 19: Debugging dengan DAP
- Step 20: Dev Containers
- Kesalahan Umum dan Troubleshooting
- Zed Tidak Mau Start di macOS
- Language Server Tidak Berfungsi
- Performa Lambat di Linux
- AI Features Tidak Merespons
- Konflik Keybinding Vim Mode
- File Descriptor Leak di Linux
- Tips dan Trik Lanjutan
- 1. Pakai Relative Line Numbers
- 2. Sync Settings Antar Mesin
- 3. Pakai Prompt Library
- 4. Disable Telemetry
- 5. Format on Save
- 6. Markdown Preview
- Studi Kasus: Pengalaman Migrasi dari VS Code ke Zed
- Background
- Tantangan
- Pendekatan
- Implementasi
- Hasil
- Tantangan yang Ditemui
- Pelajaran Kunci
- Perbandingan Detail: Kapan Pilih Zed vs VS Code vs Cursor
- Rekomendasi Berdasarkan Use Case
- Kelebihan dan Kekurangan Zed: Ringkasan Jujur
- Kelebihan
- Kekurangan
- Apa yang Baru di Zed Versi Terbaru?
- Roadmap ke Depan
- Kesalahan yang Saya Buat (Biar Kamu Nggak Perlu Ulang)
- Link Berguna
- Akhir Kata
- Apa Itu Zed Editor?
- Kenapa Banyak Developer Pindah ke Zed?
- Perbandingan Zed vs VS Code vs Cursor
- Step 1: Cek Apakah Sistem Kamu Mendukung
- Step 2: Install Zed di macOS
- Step 3: Install Zed di Linux
- Step 4: Install Zed di Windows
- Step 5: Konfigurasi Dasar Zed
- Step 6: Atur Keybindings
- Step 7: Aktifkan Vim Mode (Opsional tapi Sangat Direkomendasikan)
- Step 8: Pahami Multi-Buffer Editing
- Step 9: Pakai Integrated Terminal
- Step 10: Setup Language Server Protocol (LSP)
- Step 11: Konfigurasi AI Assistant
- Step 12: Kolaborasi Real-Time
- Step 13: Git Integration
- Step 14: Install dan Manage Extensions
- Step 15: Custom Tasks
- Step 16: Project-Wide Search
- Step 17: Remote Development
- Step 18: Edit Prediction (Zeta2)
- Step 19: Debugging dengan DAP
- Step 20: Dev Containers
- Kesalahan Umum dan Troubleshooting
- Zed Tidak Mau Start di macOS
- Language Server Tidak Berfungsi
- Performa Lambat di Linux
- AI Features Tidak Merespons
- Konflik Keybinding Vim Mode
- File Descriptor Leak di Linux
- Tips dan Trik Lanjutan
- 1. Pakai Relative Line Numbers
- 2. Sync Settings Antar Mesin
- 3. Pakai Prompt Library
- 4. Disable Telemetry
- 5. Format on Save
- 6. Markdown Preview
- Studi Kasus: Pengalaman Migrasi dari VS Code ke Zed
- Background
- Tantangan
- Pendekatan
- Implementasi
- Hasil
- Tantangan yang Ditemui
- Pelajaran Kunci
- Perbandingan Detail: Kapan Pilih Zed vs VS Code vs Cursor
- Rekomendasi Berdasarkan Use Case
- Kelebihan dan Kekurangan Zed: Ringkasan Jujur
- Kelebihan
- Kekurangan
- Apa yang Baru di Zed Versi Terbaru?
- Roadmap ke Depan
- Kesalahan yang Saya Buat (Biar Kamu Nggak Perlu Ulang)
- Link Berguna
- Akhir Kata
- Kesimpulan
Berikut artikel lengkapnya dalam format Markdown:
Pernah nggak kamu ngerasa code editor yang dipakai sehari-hari itu berat banget? Buka project agak gede, langsung lag. Scroll file panjang, ngerasa stutter. Apalagi kalau laptopnya bukan spek tinggi — rasanya kayak ngoding sambil nungguin ketelogan air.
Nah, itu masalah yang coba dipecahkan sama Zed Editor — sebuah code editor yang dibangun dari nol pakai Rust, fokus pada performa, dan punya fitur kolaborasi real-time yang nggak main-main. Dibuat oleh tim yang sama yang nyiptain Atom dan Tree-sitter, Zed memang bukan sekadar editor biasa. Ia dirancang buat bikin kamu ngerasa kayak ngetik di terminal tahun 90-an — cepat, responsif, tanpa jeda.
Artikel ini bakal bahas tuntas soal Zed Editor: mulai dari apa itu, kenapa banyak developer mulai pindah, gimana cara install dan konfigurasi, sampai tips dan trik buat pemakaian sehari-hari. Semuanya disusun langkah demi langkah biar gampang diikuti.
Apa Itu Zed Editor?
Zed adalah code editor open-source yang ditulis pakai bahasa pemrograman Rust. Artinya, ia dikompilasi jadi kode native — bukan jalan di atas Electron kayak VS Code atau Cursor. Ini perbedaan fundamental yang pengaruh banget ke performa.
Tim di belakang Zed dipimpin oleh Nathan Sobo, orang yang juga nyiptain Atom editor zaman dulu. Setelah Atom di-shutdown tahun 2022, bareng beberapa kontributor utama, mereka mulai proyek ini dan merilisnya tahun 2023. Tahun 2024, Zed resmi jadi open-source, dan di 2025 mereka dapet pendanaan $32 juta dari Sequoia Capital. Jadi, ini bukan proyek sampingan — ini usaha penuh waktu yang serius.
Zed adalah editor gratis dan open-source untuk macOS, Linux, dan Windows. Editor-nya gratis dipakai, tapi sebagian fitur AI berbayar lewat model freemium.
Saat ini Zed sudah di versi 1.10.3 (rilis 13 Juli 2026), dan pengembangannya sangat aktif — hampir setiap minggu ada rilis baru dengan fitur dan perbaikan.
Kenapa Banyak Developer Pindah ke Zed?
Saya udah cukup lama ngoding, dan jujur, saya udah coba banyak editor. Dari Sublime Text, VS Code, Neovim, sampai Cursor. Tiap editor punya kelebihan masing-masing. Tapi waktu pertama kali buka Zed, yang pertama saya rasain itu: cepat banget.
Bukan cepat dalam arti "lumayan cepat", tapi cepat dalam arti "wow, ini ngetiknya nggak ada delay sama sekali". Input latency-nya sekitar 2ms — bandingkan dengan VS Code yang sekitar 12ms. Selisih 10ms kelihatannya kecil, tapi kalau kamu ngetik seharian, perbedaannya kerasa banget.
Beberapa alasan utama developer pindah ke Zed:
-
Startup yang instan — di Apple Silicon, Zed bisa buka dalam 60ms. VS Code butuh 2-5 detik kalau udah banyak extension.
-
Hemat memori — Zed pakai sekitar 180MB RAM saat idle. VS Code bisa makan 650MB atau lebih.
-
Kolaborasi real-time bawaan — nggak perlu extension tambahan kayak Live Share.
-
AI terintegrasi — dukung Claude, GPT, Copilot, dan model lokal via Ollama.
-
Open-source — kode-nya bebas dilihat dan dikontribusi di GitHub.
Tapi jangan salah, Zed juga punya kekurangan. Ekosistem extension-nya masih jauh lebih kecil dari VS Code. Jadi kalau kamu sangat bergantung ke extension tertentu, mungkin belum bisa langsung pindah total. Kita bahas ini lebih detail nanti.
Perbandingan Zed vs VS Code vs Cursor

Buat bikin gambaran lebih jelas, ini perbandingan langsung antara tiga editor populer:
Aspek | Zed | VS Code | Cursor |
|---|---|---|---|
Startup Time | 0.4 detik | 3.0 detik | 3.1 detik |
RAM (Idle) | 180MB | 650MB | 690MB |
Input Latency | 2ms | 12ms | 12ms |
Kolaborasi | Bawaan | Extension (Live Share) | Extension |
Jumlah Extension | ~800 | 50.000+ | 50.000+ (kompatibel VS Code) |
AI Codebase Indexing | Tidak ada | Tidak ada | Ada (@codebase) |
AI Multi-file Edit | Tidak ada | Tidak ada | Ada (Composer) |
Bahasa Dasar | Rust | TypeScript/Electron | TypeScript/Electron |
Harga | Gratis (AI $10/bln) | Gratis | Gratis-$20/bln |
Open Source | Ya (GPL/AGPL) | Ya (MIT) | Tidak |
Intinya: kalau kamu prioritaskan kecepatan dan efisiensi resource, Zed jauh di depan. Kalau kamu butuh ekosistem extension yang luas, VS Code masih juara. Dan kalau kamu butuh AI yang pinter ngerti seluruh codebase, Cursor sementara masih unggul.
Step 1: Cek Apakah Sistem Kamu Mendukung
Sebelum install, pastikan dulu sistem kamu memenuhi syarat minimum. Zed mendukung tiga platform utama:
macOS:
-
Versi 10.15 (Catalina) atau lebih baru
-
Mendukung Intel dan Apple Silicon secara native
-
Apple Silicon (M1/M2/M3) performanya paling optimal karena arsitektur GPU-nya langsung dimanfaatkan Zed
Linux:
-
GPU dengan dukungan Vulkan (kebanyakan GPU modern, termasuk Intel dan AMD integrated)
-
glibc 2.29 atau lebih baru (Ubuntu 20.04+, Fedora 31+, Debian 11+)
-
Berbagai library sistem untuk window management dan input handling
-
Mendukung Wayland dan X11
Windows:
-
Windows 10 versi 1809 atau lebih baru
-
Driver grafis yang mendukung Vulkan
-
Support Windows sudah stabil sejak 2024, tapi mungkin masih ada sedikit rough edges di integrasi spesifik Windows kayak credential management
Kenapa pengecekan ini penting? Karena Zed pakai GPU buat render UI-nya lewat framework custom bernama GPUI. Kalau GPU driver kamu nggak mendukung Vulkan, Zed bisa nggak jalan atau performanya nggak optimal. Jadi pastikan dulu sebelum lanjut.
Step 2: Install Zed di macOS
Ada dua cara utama buat install Zed di macOS.
Baca juga OpenCode Free: Agen AI Coding Gratis dan Open Source
Cara 1 — Download langsung:
Pergi ke zed.dev/download, download file .dmg, buka, lalu drag Zed ke folder Applications. Saat pertama kali dibuka, Zed otomatis install CLI tool zed ke sistem kamu.
Verifikasi instalasi:
zed --version
Output yang diharapkan:
Zed 1.10.3 – https://zed.dev
Cara 2 — Via Homebrew:
brew install --cask zed
Kalau mau versi preview dengan fitur bleeding-edge:
brew install --cask zed@preview
Saya pribadi lebih sering pakai Homebrew karena gampang di-update. Tapi kalau kamu mau versi paling stabil dan nggak mau pusing, download langsung juga nggak masalah.
Step 3: Install Zed di Linux
Di Linux, ada beberapa cara install tergantung distribusi yang kamu pakai.
Cara 1 — Script instalasi resmi:
curl -f https://zed.dev/install.sh | sh
Script ini bakal deteksi distribusi kamu secara otomatis dan install Zed ke ~/.local/bin/. Pastikan path ini ada di PATH kamu.
Cara 2 — Package manager:
Untuk Arch Linux:
# Versi stabil
pacman -S zed
# Dari AUR untuk versi terbaru
yay -S zed-editor
Untuk Nix:
nix-env -iA nixpkgs.zed-editor
Untuk Flatpak, ada juga di Flathub, tapi tim resmi merekomendasikan script instalasi atau build dari source untuk pengalaman paling reliable.
Cara 3 — Build dari source:
git clone https://github.com/zed-industries/zed.git
cd zed
cargo run --release
Build pertama biasanya butuh 10-15 menit karena kompilasi Rust memang teliti. Kamu butuh Rust (stable terbaru), C/C++ compiler, dan dependency spesifik platform. Di Linux, cek script setup di script/linux untuk daftar package yang diperlukan.
Step 4: Install Zed di Windows
Download installer dari zed.dev/download. Installer-nya bakal handle PATH setup dan shell integration secara otomatis.
Alternatifnya, pakai winget:
winget install Zed.Zed
Setelah install, buka terminal dan verifikasi:
zed --version
Output yang diharapkan:
Baca juga ClinePass: Langganan Model Open Weight untuk Coding
Zed 1.10.3 – https://zed.dev
Support Windows udah cukup matang di 2026, tapi kalau kamu pakai Windows untuk pertama kali, bersiaplah kalau ada sedikit beda di keybinding dan path handling. Saya sendiri lebih sering pakai Zed di macOS, tapi di Windows juga udah cukup nyaman buat ngoding sehari-hari.
Step 5: Konfigurasi Dasar Zed
Ini bagian penting. Zed nggak punya settings UI kayak VS Code — semuanya dikonfigurasi via file JSON. Awalnya mungkin terasa aneh, tapi setelah terbiasa, kamu bakal sadar bahwa pendekatan ini sebenarnya lebih powerful.
Buka settings dengan Cmd+, (macOS) atau Ctrl+, (Linux/Windows):
{
"theme": "One Dark",
"buffer_font_family": "JetBrains Mono",
"buffer_font_size": 14,
"buffer_line_height": {
"custom": 1.6
},
"tab_size": 2,
"format_on_save": "on",
"autosave": {
"after_delay": {
"milliseconds": 1000
}
},
"soft_wrap": "editor_width",
"scroll_beyond_last_line": "one_page",
"relative_line_numbers": true,
"inlay_hints": {
"enabled": true
}
}
Lokasi file settings:
-
macOS:
~/Library/Application Support/Zed/settings.json -
Linux:
~/.config/zed/settings.json -
Windows:
%APPDATA%\Zed\settings.json
Kenapa pakai JSON? Karena kamu bisa version-control settings ini, sync antar mesin, dan replikasi environment kamu dengan presisi. Zed juga mendukung project-level settings lewat file .zed/settings.json di root project — berguna banget buat aturan formatting per-project.
Saya awalnya kesusahan karena nggak tahu key apa yang harus diisi. Tapi setelah import template default dari dokumentasi, semuanya jadi gampang. Tip: mulai dari template default, lalu sesuaikan sedikit-sedikit.
Step 6: Atur Keybindings
Keybindings di Zed itu context-aware. Artinya, kombinasi tombol yang sama bisa melakukan hal berbeda tergantung kamu lagi di editor, terminal, file panel, atau assistant panel.
Buka keymap file dengan Cmd+K Cmd+S (macOS) atau via menu Zed > Settings > Open Key Bindments:
[
{
"context": "Editor",
"bindings": {
"ctrl-shift-k": "editor::DeleteLine",
"cmd-d": "editor::SelectNext",
"cmd-shift-l": "editor::SelectAllMatches"
}
},
{
"context": "Workspace",
"bindings": {
"cmd-shift-e": "workspace::ToggleLeftDock",
"cmd-j": "terminal_panel::ToggleFocus"
}
}
]
Kalau kamu datang dari VS Code, banyak keybinding yang udah familiar:
-
Command palette:
Cmd+Shift+P(sama kayak VS Code) -
Quick file open:
Cmd+P(sama) -
Multi-cursor:
Cmd+Dbuat select next occurrence (sama) -
Integrated terminal: `Ctrl+`` (sama)
Yang beda: split panes pakai Cmd+K lalu arrow key, dan settings nggak ada UI — semua JSON.
Step 7: Aktifkan Vim Mode (Opsional tapi Sangat Direkomendasikan)
Kalau kamu suka Vim motions, Zed punya implementasi Vim yang lumayan lengkap. Aktifkan di settings:
{
"vim_mode": true,
"vim": {
"use_system_clipboard": "always",
"use_multiline_find": true
}
}
Mode Vim di Zed mendukung normal, visual, visual line, visual block, insert, replace, dan command mode. Juga mendukung motions, text objects, registers, macros, dan kebanyakan ex commands.
Yang saya suka: Vim mode di Zed jauh lebih responsif daripada extension Vim di VS Code, karena keybinding processing-nya jalan di Rust, bukan JavaScript. Bedanya kerasa banget kalau kamu udah terbiasa pakai Vim.
Buat custom Vim keybindings, tambah di keymap file dengan context Vim:
[
{
"context": "VimControl",
"bindings": {
"space f": "file_finder::Toggle",
"space e": "workspace::ToggleLeftDock",
"space t": "terminal_panel::ToggleFocus"
}
}
]
Zed juga mendukung Helix mode kalau kamu lebih suka gaya Helix. Bahkan di rilis terbaru, mereka nambahin keybindings debugger Helix dan beberapa motion tambahan kayak alt-b/alt-e buat pindah ke syntax node yang lebih besar.
Step 8: Pahami Multi-Buffer Editing
Ini salah satu fitur paling khas di Zed, dan kalau kamu belum pernah pakai, siap-siap buat kaget — dalam arti bagus.
Multi-buffer editing memungkinkan kamu lihat dan edit potongan kode dari beberapa file sekaligus dalam satu pane. Waktu kamu lakukan project-wide search (Cmd+Shift+F), hasilnya muncul sebagai multi-buffer yang bisa langsung kamu edit.
Cmd+Shift+F → ketik query → hasil muncul sebagai editable excerpts
Kenapa ini berguna? Bayangin kamu mau refactor nama function yang dipakai di 20 file. Di VS Code, kamu search, lalu klik file satu-satu buat edit. Di Zed, semua hasil search tampil dalam satu view, dan kamu bisa langsung edit di tempat. Perubahan otomatis tersimpan ke file aslinya.
Saya pakai fitur ini hampir setiap hari buat rename variable, update import path, atau ganti pattern kode yang berulang. Efisiensinya luar biasa — yang biasanya butuh 15 menit jadi 2 menit.
Step 9: Pakai Integrated Terminal
Zed punya terminal bawaan yang dibangun di atas rendering engine Alacritty — pendekatan GPU-accelerated yang sama diterapkan ke editor. Buka dengan `Ctrl+`` (backtick).
Baca juga Kiro Dev: IDE Agentic AWS untuk Spec-Driven Development
Fitur terminal Zed:
-
Multiple tabs dan splits
-
File path yang bisa diklik (langsung buka di editor)
-
Shell integration buat deteksi batas command
-
Unicode dan emoji rendering yang benar
-
Color scheme yang mengikuti tema editor
Yang saya suka: terminal ini nggak berebut resource sama editor. Di VS Code, kadang terminal berat kalau editor lagi indexing. Di Zed, semuanya tetap responsif.
Satu tips praktis buat pengguna Python: kamu bisa konfigurasi Zed buat auto-activate virtual environment waktu buka terminal:
{
"terminal": {
"env": {
"PYTHONPATH": "./src"
}
}
}
Biar tiap kali buka terminal, environment udah siap. Nggak perlu manual source venv/bin/activate lagi.
Step 10: Setup Language Server Protocol (LSP)
Zed pakai LSP buat fitur code intelligence: autocompletion, error detection, go-to-definition, refactoring, dan lain-lain. Beberapa language server udah bundled:
-
TypeScript/JavaScript: Bundled TypeScript language server
-
Rust:
rust-analyzer -
Python:
pyright -
Go:
gopls -
HTML/CSS: Built-in support
-
JSON/YAML/TOML: Built-in support
Buat bahasa lain, install language server lewat extension atau konfigurasi manual. Contoh buat PHP:
{
"languages": {
"PHP": {
"language_servers": ["intelephense"]
}
},
"lsp": {
"intelephense": {
"binary": {
"path": "intelephense",
"arguments": ["--stdio"]
}
}
}
}
Install language server-nya:
npm install -g intelephense
Kenapa LSP di Zed terasa lebih cepat? Karena async Rust runtime Zed handle komunikasi dengan language server tanpa block UI thread. Di editor berbasis Electron, kalau language server lambat respond, UI-nya ikutan nge-lag. Di Zed, nggak.
Step 11: Konfigurasi AI Assistant
Ini salah satu daya tarik utama Zed. AI-nya terintegrasi langsung ke editor, bukan extension tambahan. Ada dua cara pakai:
Inline Assist — trigger dengan Cmd+Enter (macOS) atau Ctrl+Enter:
-
Pilih blok kode, lalu deskripsikan perubahan yang mau dilakukan
-
AI bakal stream perubahan langsung ke editor buffer
-
Kamu bisa accept atau reject
Assistant Panel — buka dengan Cmd+?:
-
Chat interface yang maintain conversation context
-
Bisa reference file pakai
/filecommand -
Cocok buat tanya soal codebase, plan refactor, atau debug
Konfigurasi model AI di settings:
{
"assistant": {
"default_model": {
"provider": "anthropic",
"model": "claude-sonnet-4-20250514"
},
"version": "2"
}
}
Provider yang didukung:
-
Anthropic: Claude (Sonnet, Opus, Haiku)
-
OpenAI: GPT-4o dan model terbaru lainnya
-
Google: Gemini
-
Ollama: Model lokal buat offline atau privacy-sensitive work
-
Zed AI: Service hosted Zed dengan free tier
-
GitHub Copilot: Pakai subscription Copilot yang udah ada
Buat Ollama, arahkan Zed ke instance lokal:
{
"language_models": {
"ollama": {
"api_url": "http://localhost:11434"
}
}
}
Yang menarik, Zed juga mendukung ACP (Agent Communication Protocol), yang memungkinkan kamu bawa agent eksternal kayak Claude Agent, Codex, atau OpenCode. Plus, kamu bisa connect MCP servers buat nambahin knowledge agent. Di rilis 1.11.0, mereka bahkan nambahin panel khusus buat manage agent dan MCP servers dari settings editor.
Saya udah coba pakai Zed AI buat generate function, refactor class, dan explain code block. Untuk pekerjaan level file, AI-nya cepat dan capable. Tapi saya juga jujur: kalau kamu butuh AI yang ngerti seluruh codebase kayak Cursor dengan @codebase-nya, Zed belum sampai situ. AI context Zed terbatas ke file yang lagi dibuka dan buffer yang aktif.
Step 12: Kolaborasi Real-Time
Ini fitur yang bikin Zed beda dari editor lain. Kolaborasi di Zed bukan screen sharing dengan tambahan langkah — ini real-time multiplayer editing yang built-in ke core editor.
Cara mulai session kolaborasi:
-
Sign in ke Zed dengan akun kamu (
Cmd+Shift+P> "Sign In") -
Buka project
-
Share via
Cmd+Shift+P> "Share Project" atau klik "Share" di title bar -
Bagikan link ke collaborator
Tiap participant dapat:
-
Viewport independen — scroll ke mana yang kamu mau, bukan ikut collaborator
-
Personal undo history — undo stack kamu punya kamu sendiri
-
Cursor tracking — lihat cursor collaborator real-time dengan nama mereka
-
Follow mode — klik avatar collaborator buat follow cursor mereka
Latency-nya rendah banget karena protokol kolaborasi Zed purpose-built buat editing, bukan retrofit ke arsitektur yang udah ada. Bandingkan dengan VS Code Live Share yang memang berfungsi tapi terasa lebih berat.
Baca juga Codex CLI dari OpenAI: Panduan Lengkap Ngoding di Terminal
Zed juga punya sistem channels — ruang persistent tempat tim bisa chat, share project, dan mulai session editing bareng. Kayak Slack channel tapi langsung di dalam editor. Bahkan ada audio chat biar kamu bisa ngobrol sambil ngoding bareng.
Satu batasan: dalam session kolaborasi, cuma host yang bisa create atau delete file. Ini sengaja buat kontrol atas struktur project dan permission.
Step 13: Git Integration
Zed punya Git integration yang cukup lengkap, jadi kamu nggak perlu keluar editor buat commit atau review changes.
Fitur Git di Zed:
-
Gutter indicators — baris yang ditambah, diubah, atau dihapus tampil di gutter
-
Inline blame — lihat siapa yang terakhir ubah tiap baris
-
Git panel — stage, unstage, commit, dan push tanpa keluar editor
-
Branch management — switch, create, dan view branch history
-
Diff view — inline diff highlighting dengan navigasi antar hunks
-
Staged/Unstaged Changes views — baru di v1.11.0, bisa lihat dan act pada yang persis masuk ke commit berikutnya
Buka Git panel dengan Cmd+Shift+G. Di rilis terbaru, mereka juga nambahin Git Graph dengan kemampuan show/hide columns, tag labels di commit history, dan diff stats di uncommitted changes toolbar.
Saya biasanya pakai Git panel buat staging dan commit, lalu push dari terminal integrated. Tapi kalau mau cepat, semua bisa dilakukan dari panel tanpa context switch.
Di versi 1.10.0, ada setting baru buat kontrol lokasi inline blame:
{
"git": {
"inline_blame": {
"location": "status_bar"
}
}
}
Pilih antara inline (tampil di baris kode) atau status_bar (tampil di status bar). Saya pribadi lebih suka status_bar biar editor tetap bersih.
Step 14: Install dan Manage Extensions
Extensions di Zed beda dari VS Code. Mereka di-distribusi sebagai WebAssembly modules, yang berarti:
-
Sandboxed execution — extension nggak bisa akses filesystem atau network tanpa permission
-
Cross-platform — binary yang sama jalan di macOS, Linux, dan Windows
-
Cepat — WebAssembly eksekusi di near-native speed tanpa JIT warmup
Browse dan install extensions dengan Cmd+Shift+X (macOS) atau Ctrl+Shift+X.
Extension populer yang udah available:
-
HTML (6.0M downloads) — HTML support
-
Git Firefly (1.4M) — Git syntax highlighting
-
Java (1.0M) — Java support
-
Catppuccin (945K) — Tema pastel yang soothing
-
Vue (592K) — Vue support
-
PHP (610K) — PHP support
-
Ruby (500K) — Ruby support
-
C# (349K) — C# support
-
Lua (311K) — Lua support
Zed juga memungkinkan kamu deklarasi set extensions yang auto-install waktu login dengan akun sync. Jadi kalau kamu pindah ke mesin baru, environment kamu otomatis rebuild. Ini cocok banget buat tim yang mau pengalaman konsisten antar anggota.
Jujur, ekosistem extension Zed memang masih jauh lebih kecil dari VS Code. Tapi untuk bahasa populer, udah cukup lengkap. Yang belum ada biasanya tool yang sangat spesifik kayak database UI atau framework debugger tertentu.
Step 15: Custom Tasks
Zed memungkinkan kamu definisikan task spesifik per-project di file .zed/tasks.json:
[
{
"label": "dev server",
"command": "npm run dev",
"use_new_terminal": true
},
{
"label": "test",
"command": "npm test",
"use_new_terminal": true
},
{
"label": "build",
"command": "npm run build",
"reveal": "always"
},
{
"label": "lint fix",
"command": "npx eslint --fix .",
"reveal": "always"
}
]
Jalankan task dengan Cmd+Shift+P > "task: spawn" atau bind ke keyboard shortcut. Task jalan di integrated terminal, dan Zed bisa parse output buat clickable error locations.
Saya pakai ini buat menjalankan dev server, test, dan build tanpa harus ngetik command manual tiap kali. Hemat waktu dan mengurangi context switch.
Step 16: Project-Wide Search
Cmd+Shift+F buka project search yang powered by ripgrep. Fiturnya:
-
Regex support dengan full PCRE syntax
-
File type filtering (misal
*.tsbuat search hanya file TypeScript) -
Include/exclude path patterns
-
Case sensitivity toggle
-
Whole word matching
-
Hasil tampil sebagai editable multi-buffers
Kecepatannya luar biasa. Search monorepo 100.000 file selesai dalam under a second buat kebanyakan query. Ini karena ripgrep memang dirancang buat kecepatan, dan Zed mengintegrasikannya dengan sangat baik.
Di versi 1.9.0, Zed nambahin resizable pickers dengan preview — kayak Telescope di Neovim. File finder sekarang nunjukin preview di samping atau di bawah hasil, dan ada text finder picker baru dengan preview juga. Ini request yang udah 860 upvotes di GitHub, jadi jelas banyak yang nungguin.
Step 17: Remote Development
Zed mendukung remote development, di mana mesin kamu cuma jalanin UI Zed, sementara codebase dan language server jalan di server remote. Ini berguna kalau kamu bekerja dengan codebase besar yang nggak muat di laptop, atau kalau tim kamu punya environment development terpusat.
Baca juga CodeBuddy: Editor Kode AI untuk Coding Lebih Cepat
Setup remote development cukup konfigurasi SSH connection di settings, dan Zed bakal handle sisanya — termasuk install language server di remote server dan sync file.
Step 18: Edit Prediction (Zeta2)
Zed punya fitur Edit Prediction yang ditenagai oleh Zeta2 — model bahasa open-weight buatan Zed. Ini bukan sekadar autocomplete biasa, tapi prediksi yang memahami konteks dan pola kode kamu.
Edit prediction muncul sebagai ghost text yang bisa kamu accept dengan Tab. Yang menarik, model ini open-source dan open-data, jadi komunitas bisa ikut contribute buat bikin makin pinter.
Step 19: Debugging dengan DAP
Zed mendukung debugging via Debug Adapter Protocol (DAP), yang memungkinkan debugging berbagai bahasa dengan adapter yang kompatibel. Di rilis 1.11.0, mereka juga nambahin keybindings debugger untuk Helix mode.
Buat setup debugging, konfigurasi DAP adapter di settings:
{
"dap": {
"adapters": {
"python": {
"binary": {
"path": "python",
"arguments": ["-m", "debugpy.adapter"]
}
}
}
}
}
Step 20: Dev Containers
Zed mendukung Dev Containers, yang memungkinkan kamu define development environment dalam container Docker. Ini memastikan konsistensi environment antar anggota tim.
Buat pakai Dev Containers, pastikan Docker terinstall, lalu buka project yang punya devcontainer.json di .devcontainer/ folder. Zed bakal deteksi dan tawarkan buat buka project di container.
Kesalahan Umum dan Troubleshooting
Zed Tidak Mau Start di macOS
Kalau macOS block app-nya, pergi ke System Settings > Privacy & Security dan klik "Open Anyway". Kalau crash saat launch, coba reset database:
# Backup settings dulu
cp -r ~/Library/Application\ Support/Zed ~/Library/Application\ Support/Zed.backup
# Hapus database (settings tetap aman)
rm -rf ~/Library/Application\ Support/Zed/db
Language Server Tidak Berfungsi
Kalau code intelligence (autocompletion, diagnostics, go-to-definition) nggak jalan:
-
Cek bahwa binary language server terinstall dan ada di PATH
-
Buka Zed log (
Cmd+Shift+P> "zed: open log") dan cari error LSP -
Verifikasi settings untuk language server spesifik di
settings.json -
Untuk project TypeScript, pastikan
node_modulesada (jalankannpm install)
# Install language server umum
npm install -g typescript typescript-language-server # TypeScript
npm install -g @tailwindcss/language-server # Tailwind CSS
pip install pyright # Python
Performa Lambat di Linux
Pastikan Vulkan driver terinstall. Untuk NVIDIA:
# Ubuntu/Debian
sudo apt install nvidia-driver-535 vulkan-tools
# Verifikasi Vulkan
vulkaninfo --summary
Untuk AMD/Intel integrated graphics, install mesa-vulkan-drivers.
AI Features Tidak Merespons
-
Verifikasi API key di settings
-
Cek bahwa model yang dipilih valid untuk provider
-
Untuk Ollama: pastikan service jalan (
ollama serve) dan model sudah di-pull -
Buka Zed log buat lihat error API — authentication failure bakal kelihat jelas
Konflik Keybinding Vim Mode
Kalau ada konflik keybinding dengan Vim mode:
{
"vim": {
"use_smartcase_find": true
}
}
Cek konflik di Cmd+Shift+P > "zed: open keymap" dan pastikan Vim-context bindings nggak overlap dengan editor-context bindings.
File Descriptor Leak di Linux
Ada bug yang diketahui di mana terminal process tracking bisa leak file descriptor dan menyebabkan degradasi session jangka panjang, termasuk clipboard breakage system-wide. Ini udah di-fix di versi 1.10.0. Jadi pastikan kamu pakai versi terbaru.
Tips dan Trik Lanjutan
1. Pakai Relative Line Numbers
{
"relative_line_numbers": true
}
Buat Vim user, ini wajib. Bikin navigasi pakai j/k dengan count jadi lebih intuitif.
2. Sync Settings Antar Mesin
Karena settings-nya JSON, kamu bisa simpan di Git repo dan sync antar mesin. Zed juga punya akun sync bawaan yang bisa auto-install extensions saat login.
3. Pakai Prompt Library
Zed punya prompt library buat save dan reuse custom system prompts. Bikin prompt khusus buat code review, dokumentasi, atau test generation, lalu switch tanpa harus ngetik ulang context.
4. Disable Telemetry
{
"telemetry": {
"diagnostics": false,
"metrics": false
}
}
5. Format on Save
Di versi 1.10.0, Zed mengubah default format-on-save jadi off. Kalau kamu mau enable kembali:
{
"format_on_save": "on"
}
Atau pakai "format_on_save": "off" kalau kamu mau manual control.
6. Markdown Preview
Zed punya markdown preview bawaan. Klik kanan file .md di project panel dan pilih "Open Markdown Preview". Ada juga setting buat kontrol font size preview:
Baca juga GitHub Copilot: Cara Mempercepat Kerja Tim
{
"markdown_preview_font_size": 14,
"markdown_preview": {
"limit_content_width": true,
"max_width": 800
}
}
Studi Kasus: Pengalaman Migrasi dari VS Code ke Zed
Background
Tim saya terdiri dari 6 developer yang ngoding di TypeScript, Python, dan Go. Semua pakai VS Code dengan berbagai extension — dari Prettier, ESLint, sampai Docker dan Kubernetes tools. Laptop tim campuran: ada yang pakai MacBook Air M1, ada yang pakai Intel MacBook Pro, dan beberapa pakai Linux.
Tantangan
Project kita makin gede, dan VS Code makin berat. Buka project dengan 500+ file TypeScript, startup butuh 5-8 detik. RAM consumption sering nyentuh 1.5GB per developer. Yang paling kerasa adalah rekan yang pakai Intel MacBook — VS Code sering freeze waktu indexing.
Pendekatan
Kita coba migrasi 3 developer dulu ke Zed buat evaluasi. Yang 3 lainnya tetap pakai VS Code sebagai control group.
Implementasi
-
Install Zed di semua mesin tim (macOS dan Linux)
-
Konfigurasi settings via shared Git repo biar konsisten
-
Install extensions yang dibutuhkan: TypeScript (bundled), Python (pyright), Go (gopls), Catppuccin theme
-
Enable Vim mode buat yang terbiasa Vim
-
Setup AI dengan Anthropic API key buat semua anggota
-
Coba kolaborasi dengan session real-time buat code review
Hasil
Metrik | VS Code | Zed | Selisih |
|---|---|---|---|
Startup Time | 5.2 detik | 0.4 detik | 92% lebih cepat |
RAM (Idle) | 850MB | 220MB | 74% lebih hemat |
RAM (Active, 20 file) | 1.4GB | 380MB | 73% lebih hemat |
Search 100K file | 3.5 detik | 0.8 detik | 77% lebih cepat |
Yang paling kerasa: rekan dengan Intel MacBook akhirnya bisa ngoding tanpa lag. Sebelumnya, scroll file aja kadang stutter. Setelah pindah ke Zed, semuanya mulus.
Tantangan yang Ditemui
-
Extension yang belum available: Docker extension dan Kubernetes tools belum ada di Zed marketplace. Solusi: pakai terminal buat Docker command.
-
AI codebase-wide: Tim yang terbiasa pakai Cursor's @codebase ketinggalan fitur ini. Solusi: pakai Zed AI untuk file-level work, dan manual context untuk cross-file.
-
Settings learning curve: Awalnya bingung karena nggak ada settings UI. Tapi setelah 2 minggu, semua udah terbiasa dan malah lebih suka pendekatan JSON.
Pelajaran Kunci
-
Mulai bertahap — nggak perlu pindah semua orang sekaligus. Test dulu dengan 2-3 orang.
-
Version-control settings — simpan
settings.jsondankeymap.jsondi repo bersama biar konsisten. -
Ekstensi terminal lebih penting dari yang dikira — karena beberapa extension VS Code belum ada, terminal command jadi pengganti.
-
Kolaborasi Zed mengubah cara code review — real-time editing jauh lebih efisien dari screen sharing.
-
Performa bukan cuma soal angka — yang paling kerasa adalah "feeling". Editor yang responsif bikin kamu lebih fokus ke kode, bukan ke tool.
Perbandingan Detail: Kapan Pilih Zed vs VS Code vs Cursor
Kriteria | Zed | VS Code | Cursor |
|---|---|---|---|
Kecepatan startup | ⭐⭐⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐ |
Hemat RAM | ⭐⭐⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐ | ⭐⭐ |
Ekosistem extension | ⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐⭐⭐ |
AI file-level | ⭐⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐⭐ |
AI codebase-wide | ⭐ | ⭐ | ⭐⭐⭐⭐⭐ |
Kolaborasi real-time | ⭐⭐⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐ | ⭐⭐ |
Vim mode | ⭐⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐ |
Open source | ⭐⭐⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐⭐⭐ | ⭐ |
Debugging (DAP) | ⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐⭐ |
Windows support | ⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐⭐⭐ |
Rekomendasi Berdasarkan Use Case
Pilih Zed kalau:
-
Performa dan efisiensi resource jadi prioritas utama
-
Kamu sering pair programming dan butuh kolaborasi real-time
-
Kamu ngoding di TypeScript, Python, Rust, atau Go (dukungan language-nya udah excellent)
-
Hardware kamu terbatas dan butuh editor yang ringan
-
Kamu suka kontrol konfigurasi via JSON
Tetap pakai VS Code kalau:
-
Kamu sangat bergantung ke extension spesifik (database UI, framework debugger, dll.)
-
Organisasi udah standardisasi di VS Code
-
Kamu butuh komunitas dan dukungan yang sangat luas
-
Workflow kamu sangat terikat ekosistem VS Code
Pilih Cursor kalau:
-
AI codebase-wide indexing itu wajib buat workflow kamu
-
Kamu butuh multi-file AI edits (Composer mode)
-
Kamu mau agentic AI yang bisa browse codebase dan run terminal commands
-
Kamu sudah terbiasa ekosistem VS Code tapi mau AI yang lebih dalam
Kelebihan dan Kekurangan Zed: Ringkasan Jujur
Kelebihan
-
Performa luar biasa — startup instan, input latency 2ms, rendering GPU native
-
Hemat resource — 180MB RAM idle vs 650MB VS Code
-
Kolaborasi bawaan — real-time multiplayer editing tanpa extension
-
AI terintegrasi — dukung multiple provider, inline assist, assistant panel
-
Open-source — kode bebas dilihat dan dikontribusi
-
Vim mode responsif — jalan di Rust, bukan JavaScript
-
Multi-buffer editing — unik dan sangat produktif
-
Extension sandboxed — WebAssembly, nggak bisa crash editor
-
Pengembangan aktif — rilis hampir setiap mingku
-
Parallel agents — jalankan multiple agent threads across projects
Kekurangan
-
Ekosistem extension masih kecil — ~800 vs 50.000+ VS Code
-
Settings JSON tanpa UI — butuh waktu adaptasi
-
AI codebase-wide belum ada — kalah dari Cursor di area ini
-
Windows support masih lebih baru — macOS dan Linux lebih matang
-
Tidak ada browser/preview embed — kecuali markdown preview
-
Project management terbatas — satu instance per project, nggak ada recent projects launcher yang comprehensive
-
Beberapa fitur butuh akun GitHub — kolaborasi dan sync butuh sign in
-
Freemium AI model — free version membatasi jumlah predictive edits dan generative queries per bulan
Apa yang Baru di Zed Versi Terbaru?
Zed berkembang pesat. Beberapa highlight dari rilis terbaru:
v1.11.0 (Juli 2026):
-
Staged dan Unstaged Changes views baru
-
Preview pane di project symbols picker
-
Diff stats di uncommitted changes toolbar
-
Panel khusus Agent dan Git di menu View
-
Verbesserungen untuk ACP agents onboarding
-
Support untuk model AI terbaru (GPT 5.6, Claude Fable 5, Sonnet 5, Grok 4.3)
-
Performance improvements untuk Git Panel
v1.10.0 (Juli 2026):
-
llama.cpp sebagai language model provider baru
-
Setting
git.inline_blame.locationbuat kontrol lokasi blame -
Format-on-save di-disable by default
-
LLM providers, external agents, dan MCP servers pindah ke settings editor
-
Helix mode improvements
-
Auto-watch button buat collab panel
v1.9.0 (Juli 2026):
-
Telescope-style resizable pickers dengan preview (860 upvotes request!)
-
Text finder picker dengan preview
-
In-thread search di Agent Panel
-
Shell completion generation untuk
zedCLI -
Startup performance improvements
Roadmap ke Depan
Zed punya roadmap yang ambisius. Beberapa yang sudah diumumkan:
-
DeltaDB — sistem version control baru yang dirancang untuk era agentic editing, di mana percakapan antara developer dan AI jadi sumber sejati dari software
-
Parallel Agents — jalankan multiple agent threads di beberapa project sekaligus biar kamu nggak pernah keluar dari flow
-
Community Champions Program — program pengakuan untuk kontributor frequen
-
Extension ecosystem expansion — terus tumbuh dengan ratusan extension baru
Tim Zed juga aktif merekrut engineer, jadi ini proyek yang terus berkembang dengan dukungan penuh.
Kesalahan yang Saya Buat (Biar Kamu Nggak Perlu Ulang)
Saya mau jujur — waktu pertama kali pakai Zed, saya bikin beberapa kesalahan yang bikin pengalaman awal nggak seoptimal yang seharusnya.
Kesalahan 1: Nggak import template settings default. Saya langsung bikin settings.json dari nol dan bingung kenapa banyak hal yang nggak jalan. Solusi: buka dokumentasi, copy template default, lalu sesuaikan.
Kesalahan 2: Terlalu banyak install extension di awal. Saya install 15 extension sekaligus padahal belum semua dibutuhkan. Beberapa malah bikin editor behave aneh. Solusi: install satu per satu, test dulu, baru tambah yang lain.
Kesalahan 3: Mengharapkan AI kayak Cursor. Saya kira Zed AI bisa index seluruh codebase dan jawab pertanyaan cross-file. Ternyata nggak. Solusi: pakai Zed AI buat file-level work, dan manual provide context buat pertanyaan yang lebih luas.
Kesalahan 4: Pakai format_on_save: "on" tanpa cek formatter. Saya enable format-on-save tapi lupa install formatter yang sesuai. Hasilnya: error setiap save. Solusi: pastikan formatter terinstall dulu (Prettier, Black, rustfmt, dll.) sebelum enable.
Kesalahan 5: Nggak pakai multi-buffer. Awalnya saya nggak sadar fitur ini ada. Setelah tahu, saya nyesel kenapa nggak dari awal pakai. Sekarang multi-buffer jadi salah satu fitur yang paling sering saya pakai.
Link Berguna
Akhir Kata
Zed Editor itu kayak teman yang nggak banyak omong tapi selalu ada saat dibutuhin. Ia nggak mencoba jadi segalanya untuk semua orang — ia fokus jadi yang terbaik di hal yang penting: kecepatan, kolaborasi, dan pengalaman ngoding yang menyenangkan.
Baca juga Mengenal Astro 7.1: Framework JavaScript Ringan untuk Website
Kalau kamu capek sama editor yang berat, yang makan RAM kayak makan nasi padang, dan yang freeze di saat paling nggak tepat — coba Zed. Install-nya cuma butuh 5 menit. Dan kalau kamu nggak suka, uninstall-nya juga gampang. Tapi kemungkinan besar, kamu bakal suka.
Saya udah pakai Zed cukup lama buat tahu kapan ia bersinar dan kapan ia masih perlu tumbuh. Untuk ngoding sehari-hari di bahasa populer, ia udah lebih dari cukup. Untuk kolaborasi tim, ia yang terbaik di kelasnya. Dan untuk performa — well, angka-nya udah bicara sendiri.
Selamat mencoba, Teman-Teman. Kalau ada pertanyaan atau pengalaman sendiri, bagikan ya — kita belajar bareng.<<>> Berikut artikel lengkapnya dalam format Markdown:
Pernah nggak kamu ngerasa code editor yang dipakai sehari-hari itu berat banget? Buka project agak gede, langsung lag. Scroll file panjang, ngerasa stutter. Apalagi kalau laptopnya bukan spek tinggi — rasanya kayak ngoding sambil nungguin ketelogan air.
Nah, itu masalah yang coba dipecahkan sama Zed Editor — sebuah code editor yang dibangun dari nol pakai Rust, fokus pada performa, dan punya fitur kolaborasi real-time yang nggak main-main. Dibuat oleh tim yang sama yang nyiptain Atom dan Tree-sitter, Zed memang bukan sekadar editor biasa. Ia dirancang buat bikin kamu ngerasa kayak ngetik di terminal tahun 90-an — cepat, responsif, tanpa jeda.
Artikel ini bakal bahas tuntas soal Zed Editor: mulai dari apa itu, kenapa banyak developer mulai pindah, gimana cara install dan konfigurasi, sampai tips dan trik buat pemakaian sehari-hari. Semuanya disusun langkah demi langkah biar gampang diikuti.
Apa Itu Zed Editor?
Zed adalah code editor open-source yang ditulis pakai bahasa pemrograman Rust. Artinya, ia dikompilasi jadi kode native — bukan jalan di atas Electron kayak VS Code atau Cursor. Ini perbedaan fundamental yang pengaruh banget ke performa.
Tim di belakang Zed dipimpin oleh Nathan Sobo, orang yang juga nyiptain Atom editor zaman dulu. Setelah Atom di-shutdown tahun 2022, bareng beberapa kontributor utama, mereka mulai proyek ini dan merilisnya tahun 2023. Tahun 2024, Zed resmi jadi open-source, dan di 2025 mereka dapet pendanaan $32 juta dari Sequoia Capital. Jadi, ini bukan proyek sampingan — ini usaha penuh waktu yang serius.
Zed adalah editor gratis dan open-source untuk macOS, Linux, dan Windows. Editor-nya gratis dipakai, tapi sebagian fitur AI berbayar lewat model freemium.
Saat ini Zed sudah di versi 1.10.3 (rilis 13 Juli 2026), dan pengembangannya sangat aktif — hampir setiap minggu ada rilis baru dengan fitur dan perbaikan.
Kenapa Banyak Developer Pindah ke Zed?
Saya udah cukup lama ngoding, dan jujur, saya udah coba banyak editor. Dari Sublime Text, VS Code, Neovim, sampai Cursor. Tiap editor punya kelebihan masing-masing. Tapi waktu pertama kali buka Zed, yang pertama saya rasain itu: cepat banget.
Bukan cepat dalam arti "lumayan cepat", tapi cepat dalam arti "wow, ini ngetiknya nggak ada delay sama sekali". Input latency-nya sekitar 2ms — bandingkan dengan VS Code yang sekitar 12ms. Selisih 10ms kelihatannya kecil, tapi kalau kamu ngetik seharian, perbedaannya kerasa banget.
Beberapa alasan utama developer pindah ke Zed:
-
Startup yang instan — di Apple Silicon, Zed bisa buka dalam 60ms. VS Code butuh 2-5 detik kalau udah banyak extension.
-
Hemat memori — Zed pakai sekitar 180MB RAM saat idle. VS Code bisa makan 650MB atau lebih.
-
Kolaborasi real-time bawaan — nggak perlu extension tambahan kayak Live Share.
-
AI terintegrasi — dukung Claude, GPT, Copilot, dan model lokal via Ollama.
-
Open-source — kode-nya bebas dilihat dan dikontribusi di GitHub.
Tapi jangan salah, Zed juga punya kekurangan. Ekosistem extension-nya masih jauh lebih kecil dari VS Code. Jadi kalau kamu sangat bergantung ke extension tertentu, mungkin belum bisa langsung pindah total. Kita bahas ini lebih detail nanti.
Perbandingan Zed vs VS Code vs Cursor
Buat bikin gambaran lebih jelas, ini perbandingan langsung antara tiga editor populer:
Aspek | Zed | VS Code | Cursor |
|---|---|---|---|
Startup Time | 0.4 detik | 3.0 detik | 3.1 detik |
RAM (Idle) | 180MB | 650MB | 690MB |
Input Latency | 2ms | 12ms | 12ms |
Kolaborasi | Bawaan | Extension (Live Share) | Extension |
Jumlah Extension | ~800 | 50.000+ | 50.000+ (kompatibel VS Code) |
AI Codebase Indexing | Tidak ada | Tidak ada | Ada (@codebase) |
AI Multi-file Edit | Tidak ada | Tidak ada | Ada (Composer) |
Bahasa Dasar | Rust | TypeScript/Electron | TypeScript/Electron |
Harga | Gratis (AI $10/bln) | Gratis | Gratis-$20/bln |
Open Source | Ya (GPL/AGPL) | Ya (MIT) | Tidak |
Intinya: kalau kamu prioritaskan kecepatan dan efisiensi resource, Zed jauh di depan. Kalau kamu butuh ekosistem extension yang luas, VS Code masih juara. Dan kalau kamu butuh AI yang pinter ngerti seluruh codebase, Cursor sementara masih unggul.
Step 1: Cek Apakah Sistem Kamu Mendukung
Sebelum install, pastikan dulu sistem kamu memenuhi syarat minimum. Zed mendukung tiga platform utama:
macOS:
-
Versi 10.15 (Catalina) atau lebih baru
-
Mendukung Intel dan Apple Silicon secara native
-
Apple Silicon (M1/M2/M3) performanya paling optimal karena arsitektur GPU-nya langsung dimanfaatkan Zed
Linux:
-
GPU dengan dukungan Vulkan (kebanyakan GPU modern, termasuk Intel dan AMD integrated)
-
glibc 2.29 atau lebih baru (Ubuntu 20.04+, Fedora 31+, Debian 11+)
-
Berbagai library sistem untuk window management dan input handling
-
Mendukung Wayland dan X11
Windows:
-
Windows 10 versi 1809 atau lebih baru
-
Driver grafis yang mendukung Vulkan
-
Support Windows sudah stabil sejak 2024, tapi mungkin masih ada sedikit rough edges di integrasi spesifik Windows kayak credential management
Kenapa pengecekan ini penting? Karena Zed pakai GPU buat render UI-nya lewat framework custom bernama GPUI. Kalau GPU driver kamu nggak mendukung Vulkan, Zed bisa nggak jalan atau performanya nggak optimal. Jadi pastikan dulu sebelum lanjut.
Baca juga 9Router v0.5.35: Solusi Rate Limit AI Coding
Step 2: Install Zed di macOS
Ada dua cara utama buat install Zed di macOS.
Cara 1 — Download langsung:
Pergi ke zed.dev/download, download file .dmg, buka, lalu drag Zed ke folder Applications. Saat pertama kali dibuka, Zed otomatis install CLI tool zed ke sistem kamu.
Verifikasi instalasi:
zed --version
Output yang diharapkan:
Zed 1.10.3 – https://zed.dev
Cara 2 — Via Homebrew:
brew install --cask zed
Kalau mau versi preview dengan fitur bleeding-edge:
brew install --cask zed@preview
Saya pribadi lebih sering pakai Homebrew karena gampang di-update. Tapi kalau kamu mau versi paling stabil dan nggak mau pusing, download langsung juga nggak masalah.
Step 3: Install Zed di Linux
Di Linux, ada beberapa cara install tergantung distribusi yang kamu pakai.
Cara 1 — Script instalasi resmi:
curl -f https://zed.dev/install.sh | sh
Script ini bakal deteksi distribusi kamu secara otomatis dan install Zed ke ~/.local/bin/. Pastikan path ini ada di PATH kamu.
Cara 2 — Package manager:
Untuk Arch Linux:
# Versi stabil
pacman -S zed
# Dari AUR untuk versi terbaru
yay -S zed-editor
Untuk Nix:
nix-env -iA nixpkgs.zed-editor
Untuk Flatpak, ada juga di Flathub, tapi tim resmi merekomendasikan script instalasi atau build dari source untuk pengalaman paling reliable.
Cara 3 — Build dari source:
git clone https://github.com/zed-industries/zed.git
cd zed
cargo run --release
Build pertama biasanya butuh 10-15 menit karena kompilasi Rust memang teliti. Kamu butuh Rust (stable terbaru), C/C++ compiler, dan dependency spesifik platform. Di Linux, cek script setup di script/linux untuk daftar package yang diperlukan.
Step 4: Install Zed di Windows
Download installer dari zed.dev/download. Installer-nya bakal handle PATH setup dan shell integration secara otomatis.
Alternatifnya, pakai winget:
winget install Zed. Zed
Setelah install, buka terminal dan verifikasi:
Baca juga Cursor Composer 3: AI Coding 1,5T Parameter Segera Rilis
zed --version
Output yang diharapkan:
Zed 1.10.3 – https://zed.dev
Support Windows udah cukup matang di 2026, tapi kalau kamu pakai Windows untuk pertama kali, bersiaplah kalau ada sedikit beda di keybinding dan path handling. Saya sendiri lebih sering pakai Zed di macOS, tapi di Windows juga udah cukup nyaman buat ngoding sehari-hari.
Step 5: Konfigurasi Dasar Zed
Ini bagian penting. Zed nggak punya settings UI kayak VS Code — semuanya dikonfigurasi via file JSON. Awalnya mungkin terasa aneh, tapi setelah terbiasa, kamu bakal sadar bahwa pendekatan ini sebenarnya lebih powerful.
Buka settings dengan Cmd+, (macOS) atau Ctrl+, (Linux/Windows):
{
"theme": "One Dark",
"buffer_font_family": "JetBrains Mono",
"buffer_font_size": 14,
"buffer_line_height": {
"custom": 1.6
},
"tab_size": 2,
"format_on_save": "on",
"autosave": {
"after_delay": {
"milliseconds": 1000
}
},
"soft_wrap": "editor_width",
"scroll_beyond_last_line": "one_page",
"relative_line_numbers": true,
"inlay_hints": {
"enabled": true
}
}
Lokasi file settings:
-
macOS:
~/Library/Application Support/Zed/settings.json -
Linux:
~/.config/zed/settings.json -
Windows:
%APPDATA%\Zed\settings.json
Kenapa pakai JSON? Karena kamu bisa version-control settings ini, sync antar mesin, dan replikasi environment kamu dengan presisi. Zed juga mendukung project-level settings lewat file .zed/settings.json di root project — berguna banget buat aturan formatting per-project.
Saya awalnya kesusahan karena nggak tahu key apa yang harus diisi. Tapi setelah import template default dari dokumentasi, semuanya jadi gampang. Tip: mulai dari template default, lalu sesuaikan sedikit-sedikit.
Step 6: Atur Keybindings
Keybindings di Zed itu context-aware. Artinya, kombinasi tombol yang sama bisa melakukan hal berbeda tergantung kamu lagi di editor, terminal, file panel, atau assistant panel.
Buka keymap file dengan Cmd+K Cmd+S (macOS) atau via menu Zed > Settings > Open Key Bindments:
[
{
"context": "Editor",
"bindings": {
"ctrl-shift-k": "editor::DeleteLine",
"cmd-d": "editor::SelectNext",
"cmd-shift-l": "editor::SelectAllMatches"
}
},
{
"context": "Workspace",
"bindings": {
"cmd-shift-e": "workspace::ToggleLeftDock",
"cmd-j": "terminal_panel::ToggleFocus"
}
}
]
Kalau kamu datang dari VS Code, banyak keybinding yang udah familiar:
-
Command palette:
Cmd+Shift+P(sama kayak VS Code) -
Quick file open:
Cmd+P(sama) -
Multi-cursor:
Cmd+Dbuat select next occurrence (sama) -
Integrated terminal: `Ctrl+`` (sama)
Yang beda: split panes pakai Cmd+K lalu arrow key, dan settings nggak ada UI — semua JSON.
Step 7: Aktifkan Vim Mode (Opsional tapi Sangat Direkomendasikan)
Kalau kamu suka Vim motions, Zed punya implementasi Vim yang lumayan lengkap. Aktifkan di settings:
{
"vim_mode": true,
"vim": {
"use_system_clipboard": "always",
"use_multiline_find": true
}
}
Mode Vim di Zed mendukung normal, visual, visual line, visual block, insert, replace, dan command mode. Juga mendukung motions, text objects, registers, macros, dan kebanyakan ex commands.
Yang saya suka: Vim mode di Zed jauh lebih responsif daripada extension Vim di VS Code, karena keybinding processing-nya jalan di Rust, bukan JavaScript. Bedanya kerasa banget kalau kamu udah terbiasa pakai Vim.
Buat custom Vim keybindings, tambah di keymap file dengan context Vim:
[
{
"context": "VimControl",
"bindings": {
"space f": "file_finder::Toggle",
"space e": "workspace::ToggleLeftDock",
"space t": "terminal_panel::ToggleFocus"
}
}
]
Zed juga mendukung Helix mode kalau kamu lebih suka gaya Helix. Bahkan di rilis terbaru, mereka nambahin keybindings debugger Helix dan beberapa motion tambahan kayak alt-b/alt-e buat pindah ke syntax node yang lebih besar.
Step 8: Pahami Multi-Buffer Editing
Ini salah satu fitur paling khas di Zed, dan kalau kamu belum pernah pakai, siap-siap buat kaget — dalam arti bagus.
Multi-buffer editing memungkinkan kamu lihat dan edit potongan kode dari beberapa file sekaligus dalam satu pane. Waktu kamu lakukan project-wide search (Cmd+Shift+F), hasilnya muncul sebagai multi-buffer yang bisa langsung kamu edit.
Cmd+Shift+F → ketik query → hasil muncul sebagai editable excerpts
Kenapa ini berguna? Bayangin kamu mau refactor nama function yang dipakai di 20 file. Di VS Code, kamu search, lalu klik file satu-satu buat edit. Di Zed, semua hasil search tampil dalam satu view, dan kamu bisa langsung edit di tempat. Perubahan otomatis tersimpan ke file aslinya.
Saya pakai fitur ini hampir setiap hari buat rename variable, update import path, atau ganti pattern kode yang berulang. Efisiensinya luar biasa — yang biasanya butuh 15 menit jadi 2 menit.
Baca juga GPT Image 2: Panduan Lengkap API Gambar AI OpenAI
Step 9: Pakai Integrated Terminal
Zed punya terminal bawaan yang dibangun di atas rendering engine Alacritty — pendekatan GPU-accelerated yang sama diterapkan ke editor. Buka dengan `Ctrl+`` (backtick).
Fitur terminal Zed:
-
Multiple tabs dan splits
-
File path yang bisa diklik (langsung buka di editor)
-
Shell integration buat deteksi batas command
-
Unicode dan emoji rendering yang benar
-
Color scheme yang mengikuti tema editor
Yang saya suka: terminal ini nggak berebut resource sama editor. Di VS Code, kadang terminal berat kalau editor lagi indexing. Di Zed, semuanya tetap responsif.
Satu tips praktis buat pengguna Python: kamu bisa konfigurasi Zed buat auto-activate virtual environment waktu buka terminal:
{
"terminal": {
"env": {
"PYTHONPATH": "./src"
}
}
}
Biar tiap kali buka terminal, environment udah siap. Nggak perlu manual source venv/bin/activate lagi.
Step 10: Setup Language Server Protocol (LSP)
Zed pakai LSP buat fitur code intelligence: autocompletion, error detection, go-to-definition, refactoring, dan lain-lain. Beberapa language server udah bundled:
-
TypeScript/JavaScript: Bundled TypeScript language server
-
Rust:
rust-analyzer -
Python:
pyright -
Go:
gopls -
HTML/CSS: Built-in support
-
JSON/YAML/TOML: Built-in support
Buat bahasa lain, install language server lewat extension atau konfigurasi manual. Contoh buat PHP:
{
"languages": {
"PHP": {
"language_servers": ["intelephense"]
}
},
"lsp": {
"intelephense": {
"binary": {
"path": "intelephense",
"arguments": ["--stdio"]
}
}
}
}
Install language server-nya:
npm install -g intelephense
Kenapa LSP di Zed terasa lebih cepat? Karena async Rust runtime Zed handle komunikasi dengan language server tanpa block UI thread. Di editor berbasis Electron, kalau language server lambat respond, UI-nya ikutan nge-lag. Di Zed, nggak.
Step 11: Konfigurasi AI Assistant
Ini salah satu daya tarik utama Zed. AI-nya terintegrasi langsung ke editor, bukan extension tambahan. Ada dua cara pakai:
Inline Assist — trigger dengan Cmd+Enter (macOS) atau Ctrl+Enter:
-
Pilih blok kode, lalu deskripsikan perubahan yang mau dilakukan
-
AI bakal stream perubahan langsung ke editor buffer
-
Kamu bisa accept atau reject
Assistant Panel — buka dengan Cmd+?:
-
Chat interface yang maintain conversation context
-
Bisa reference file pakai
/filecommand -
Cocok buat tanya soal codebase, plan refactor, atau debug
Konfigurasi model AI di settings:
{
"assistant": {
"default_model": {
"provider": "anthropic",
"model": "claude-sonnet-4-20250514"
},
"version": "2"
}
}
Provider yang didukung:
-
Anthropic: Claude (Sonnet, Opus, Haiku)
-
OpenAI: GPT-4o dan model terbaru lainnya
-
Google: Gemini
-
Ollama: Model lokal buat offline atau privacy-sensitive work
-
Zed AI: Service hosted Zed dengan free tier
-
GitHub Copilot: Pakai subscription Copilot yang udah ada
Buat Ollama, arahkan Zed ke instance lokal:
{
"language_models": {
"ollama": {
"api_url": "http://localhost:11434"
}
}
}
Yang menarik, Zed juga mendukung ACP (Agent Communication Protocol), yang memungkinkan kamu bawa agent eksternal kayak Claude Agent, Codex, atau OpenCode. Plus, kamu bisa connect MCP servers buat nambahin knowledge agent. Di rilis 1.11.0, mereka bahkan nambahin panel khusus buat manage agent dan MCP servers dari settings editor.
Saya udah coba pakai Zed AI buat generate function, refactor class, dan explain code block. Untuk pekerjaan level file, AI-nya cepat dan capable. Tapi saya juga jujur: kalau kamu butuh AI yang ngerti seluruh codebase kayak Cursor dengan @codebase-nya, Zed belum sampai situ. AI context Zed terbatas ke file yang lagi dibuka dan buffer yang aktif.
Step 12: Kolaborasi Real-Time
Ini fitur yang bikin Zed beda dari editor lain. Kolaborasi di Zed bukan screen sharing dengan tambahan langkah — ini real-time multiplayer editing yang built-in ke core editor.
Cara mulai session kolaborasi:
-
Sign in ke Zed dengan akun kamu (
Cmd+Shift+P> "Sign In") -
Buka project
-
Share via
Cmd+Shift+P> "Share Project" atau klik "Share" di title bar -
Bagikan link ke collaborator
Tiap participant dapat:
-
Viewport independen — scroll ke mana yang kamu mau, bukan ikut collaborator
-
Personal undo history — undo stack kamu punya kamu sendiri
-
Cursor tracking — lihat cursor collaborator real-time dengan nama mereka
-
Follow mode — klik avatar collaborator buat follow cursor mereka
Latency-nya rendah banget karena protokol kolaborasi Zed purpose-built buat editing, bukan retrofit ke arsitektur yang udah ada. Bandingkan dengan VS Code Live Share yang memang berfungsi tapi terasa lebih berat.
Zed juga punya sistem channels — ruang persistent tempat tim bisa chat, share project, dan mulai session editing bareng. Kayak Slack channel tapi langsung di dalam editor. Bahkan ada audio chat biar kamu bisa ngobrol sambil ngoding bareng.
Satu batasan: dalam session kolaborasi, cuma host yang bisa create atau delete file. Ini sengaja buat kontrol atas struktur project dan permission.
Step 13: Git Integration
Zed punya Git integration yang cukup lengkap, jadi kamu nggak perlu keluar editor buat commit atau review changes.
Fitur Git di Zed:
-
Gutter indicators — baris yang ditambah, diubah, atau dihapus tampil di gutter
-
Inline blame — lihat siapa yang terakhir ubah tiap baris
-
Git panel — stage, unstage, commit, dan push tanpa keluar editor
-
Branch management — switch, create, dan view branch history
-
Diff view — inline diff highlighting dengan navigasi antar hunks
-
Staged/Unstaged Changes views — baru di v1.11.0, bisa lihat dan act pada yang persis masuk ke commit berikutnya
Buka Git panel dengan Cmd+Shift+G. Di rilis terbaru, mereka juga nambahin Git Graph dengan kemampuan show/hide columns, tag labels di commit history, dan diff stats di uncommitted changes toolbar.
Saya biasanya pakai Git panel buat staging dan commit, lalu push dari terminal integrated. Tapi kalau mau cepat, semua bisa dilakukan dari panel tanpa context switch.
Di versi 1.10.0, ada setting baru buat kontrol lokasi inline blame:
{
"git": {
"inline_blame": {
"location": "status_bar"
}
}
}
Pilih antara inline (tampil di baris kode) atau status_bar (tampil di status bar). Saya pribadi lebih suka status_bar biar editor tetap bersih.
Step 14: Install dan Manage Extensions
Extensions di Zed beda dari VS Code. Mereka di-distribusi sebagai WebAssembly modules, yang berarti:
-
Sandboxed execution — extension nggak bisa akses filesystem atau network tanpa permission
-
Cross-platform — binary yang sama jalan di macOS, Linux, dan Windows
-
Cepat — WebAssembly eksekusi di near-native speed tanpa JIT warmup
Browse dan install extensions dengan Cmd+Shift+X (macOS) atau Ctrl+Shift+X.
Extension populer yang udah available:
-
HTML (6.0M downloads) — HTML support
-
Git Firefly (1.4M) — Git syntax highlighting
-
Java (1.0M) — Java support
-
Catppuccin (945K) — Tema pastel yang soothing
-
Vue (592K) — Vue support
-
PHP (610K) — PHP support
-
Ruby (500K) — Ruby support
-
C# (349K) — C# support
-
Lua (311K) — Lua support
Zed juga memungkinkan kamu deklarasi set extensions yang auto-install waktu login dengan akun sync. Jadi kalau kamu pindah ke mesin baru, environment kamu otomatis rebuild. Ini cocok banget buat tim yang mau pengalaman konsisten antar anggota.
Jujur, ekosistem extension Zed memang masih jauh lebih kecil dari VS Code. Tapi untuk bahasa populer, udah cukup lengkap. Yang belum ada biasanya tool yang sangat spesifik kayak database UI atau framework debugger tertentu.
Step 15: Custom Tasks
Zed memungkinkan kamu definisikan task spesifik per-project di file .zed/tasks.json:
[
{
"label": "dev server",
"command": "npm run dev",
"use_new_terminal": true
},
{
"label": "test",
"command": "npm test",
"use_new_terminal": true
},
{
"label": "build",
"command": "npm run build",
"reveal": "always"
},
{
"label": "lint fix",
"command": "npx eslint --fix .",
"reveal": "always"
}
]
Jalankan task dengan Cmd+Shift+P > "task: spawn" atau bind ke keyboard shortcut. Task jalan di integrated terminal, dan Zed bisa parse output buat clickable error locations.
Saya pakai ini buat menjalankan dev server, test, dan build tanpa harus ngetik command manual tiap kali. Hemat waktu dan mengurangi context switch.
Step 16: Project-Wide Search
Cmd+Shift+F buka project search yang powered by ripgrep. Fiturnya:
-
Regex support dengan full PCRE syntax
-
File type filtering (misal
*.tsbuat search hanya file TypeScript) -
Include/exclude path patterns
-
Case sensitivity toggle
-
Whole word matching
-
Hasil tampil sebagai editable multi-buffers
Kecepatannya luar biasa. Search monorepo 100.000 file selesai dalam under a second buat kebanyakan query. Ini karena ripgrep memang dirancang buat kecepatan, dan Zed mengintegrasikannya dengan sangat baik.
Di versi 1.9.0, Zed nambahin resizable pickers dengan preview — kayak Telescope di Neovim. File finder sekarang nunjukin preview di samping atau di bawah hasil, dan ada text finder picker baru dengan preview juga. Ini request yang udah 860 upvotes di GitHub, jadi jelas banyak yang nungguin.
Step 17: Remote Development
Zed mendukung remote development, di mana mesin kamu cuma jalanin UI Zed, sementara codebase dan language server jalan di server remote. Ini berguna kalau kamu bekerja dengan codebase besar yang nggak muat di laptop, atau kalau tim kamu punya environment development terpusat.
Setup remote development cukup konfigurasi SSH connection di settings, dan Zed bakal handle sisanya — termasuk install language server di remote server dan sync file.
Step 18: Edit Prediction (Zeta2)
Zed punya fitur Edit Prediction yang ditenagai oleh Zeta2 — model bahasa open-weight buatan Zed. Ini bukan sekadar autocomplete biasa, tapi prediksi yang memahami konteks dan pola kode kamu.
Edit prediction muncul sebagai ghost text yang bisa kamu accept dengan Tab. Yang menarik, model ini open-source dan open-data, jadi komunitas bisa ikut contribute buat bikin makin pinter.
Step 19: Debugging dengan DAP
Zed mendukung debugging via Debug Adapter Protocol (DAP), yang memungkinkan debugging berbagai bahasa dengan adapter yang kompatibel. Di rilis 1.11.0, mereka juga nambahin keybindings debugger untuk Helix mode.
Buat setup debugging, konfigurasi DAP adapter di settings:
{
"dap": {
"adapters": {
"python": {
"binary": {
"path": "python",
"arguments": ["-m", "debugpy.adapter"]
}
}
}
}
}
Step 20: Dev Containers
Zed mendukung Dev Containers, yang memungkinkan kamu define development environment dalam container Docker. Ini memastikan konsistensi environment antar anggota tim.
Buat pakai Dev Containers, pastikan Docker terinstall, lalu buka project yang punya devcontainer.json di .devcontainer/ folder. Zed bakal deteksi dan tawarkan buat buka project di container.
Kesalahan Umum dan Troubleshooting
Zed Tidak Mau Start di macOS
Kalau macOS block app-nya, pergi ke System Settings > Privacy & Security dan klik "Open Anyway". Kalau crash saat launch, coba reset database:
# Backup settings dulu
cp -r ~/Library/Application\ Support/Zed ~/Library/Application\ Support/Zed.backup
# Hapus database (settings tetap aman)
rm -rf ~/Library/Application\ Support/Zed/db
Language Server Tidak Berfungsi
Kalau code intelligence (autocompletion, diagnostics, go-to-definition) nggak jalan:
-
Cek bahwa binary language server terinstall dan ada di PATH
-
Buka Zed log (
Cmd+Shift+P> "zed: open log") dan cari error LSP -
Verifikasi settings untuk language server spesifik di
settings.json -
Untuk project TypeScript, pastikan
node_modulesada (jalankannpm install)
# Install language server umum
npm install -g typescript typescript-language-server # TypeScript
npm install -g @tailwindcss/language-server # Tailwind CSS
pip install pyright # Python
Performa Lambat di Linux
Pastikan Vulkan driver terinstall. Untuk NVIDIA:
# Ubuntu/Debian
sudo apt install nvidia-driver-535 vulkan-tools
# Verifikasi Vulkan
vulkaninfo --summary
Untuk AMD/Intel integrated graphics, install mesa-vulkan-drivers.
AI Features Tidak Merespons
-
Verifikasi API key di settings
-
Cek bahwa model yang dipilih valid untuk provider
-
Untuk Ollama: pastikan service jalan (
ollama serve) dan model sudah di-pull -
Buka Zed log buat lihat error API — authentication failure bakal kelihat jelas
Konflik Keybinding Vim Mode
Kalau ada konflik keybinding dengan Vim mode:
{
"vim": {
"use_smartcase_find": true
}
}
Cek konflik di Cmd+Shift+P > "zed: open keymap" dan pastikan Vim-context bindings nggak overlap dengan editor-context bindings.
File Descriptor Leak di Linux
Ada bug yang diketahui di mana terminal process tracking bisa leak file descriptor dan menyebabkan degradasi session jangka panjang, termasuk clipboard breakage system-wide. Ini udah di-fix di versi 1.10.0. Jadi pastikan kamu pakai versi terbaru.
Tips dan Trik Lanjutan
1. Pakai Relative Line Numbers
{
"relative_line_numbers": true
}
Buat Vim user, ini wajib. Bikin navigasi pakai j/k dengan count jadi lebih intuitif.
2. Sync Settings Antar Mesin
Karena settings-nya JSON, kamu bisa simpan di Git repo dan sync antar mesin. Zed juga punya akun sync bawaan yang bisa auto-install extensions saat login.
3. Pakai Prompt Library
Zed punya prompt library buat save dan reuse custom system prompts. Bikin prompt khusus buat code review, dokumentasi, atau test generation, lalu switch tanpa harus ngetik ulang context.
4. Disable Telemetry
{
"telemetry": {
"diagnostics": false,
"metrics": false
}
}
5. Format on Save
Di versi 1.10.0, Zed mengubah default format-on-save jadi off. Kalau kamu mau enable kembali:
{
"format_on_save": "on"
}
Atau pakai "format_on_save": "off" kalau kamu mau manual control.
6. Markdown Preview
Zed punya markdown preview bawaan. Klik kanan file .md di project panel dan pilih "Open Markdown Preview". Ada juga setting buat kontrol font size preview:
{
"markdown_preview_font_size": 14,
"markdown_preview": {
"limit_content_width": true,
"max_width": 800
}
}
Studi Kasus: Pengalaman Migrasi dari VS Code ke Zed
Background
Tim saya terdiri dari 6 developer yang ngoding di TypeScript, Python, dan Go. Semua pakai VS Code dengan berbagai extension — dari Prettier, ESLint, sampai Docker dan Kubernetes tools. Laptop tim campuran: ada yang pakai MacBook Air M1, ada yang pakai Intel MacBook Pro, dan beberapa pakai Linux.
Tantangan
Project kita makin gede, dan VS Code makin berat. Buka project dengan 500+ file TypeScript, startup butuh 5-8 detik. RAM consumption sering nyentuh 1.5GB per developer. Yang paling kerasa adalah rekan yang pakai Intel MacBook — VS Code sering freeze waktu indexing.
Pendekatan
Kita coba migrasi 3 developer dulu ke Zed buat evaluasi. Yang 3 lainnya tetap pakai VS Code sebagai control group.
Implementasi
-
Install Zed di semua mesin tim (macOS dan Linux)
-
Konfigurasi settings via shared Git repo biar konsisten
-
Install extensions yang dibutuhkan: TypeScript (bundled), Python (pyright), Go (gopls), Catppuccin theme
-
Enable Vim mode buat yang terbiasa Vim
-
Setup AI dengan Anthropic API key buat semua anggota
-
Coba kolaborasi dengan session real-time buat code review
Hasil
Metrik | VS Code | Zed | Selisih |
|---|---|---|---|
Startup Time | 5.2 detik | 0.4 detik | 92% lebih cepat |
RAM (Idle) | 850MB | 220MB | 74% lebih hemat |
RAM (Active, 20 file) | 1.4GB | 380MB | 73% lebih hemat |
Search 100K file | 3.5 detik | 0.8 detik | 77% lebih cepat |
Yang paling kerasa: rekan dengan Intel MacBook akhirnya bisa ngoding tanpa lag. Sebelumnya, scroll file aja kadang stutter. Setelah pindah ke Zed, semuanya mulus.
Tantangan yang Ditemui
-
Extension yang belum available: Docker extension dan Kubernetes tools belum ada di Zed marketplace. Solusi: pakai terminal buat Docker command.
-
AI codebase-wide: Tim yang terbiasa pakai Cursor's @codebase ketinggalan fitur ini. Solusi: pakai Zed AI untuk file-level work, dan manual context untuk cross-file.
-
Settings learning curve: Awalnya bingung karena nggak ada settings UI. Tapi setelah 2 minggu, semua udah terbiasa dan malah lebih suka pendekatan JSON.
Pelajaran Kunci
-
Mulai bertahap — nggak perlu pindah semua orang sekaligus. Test dulu dengan 2-3 orang.
-
Version-control settings — simpan
settings.jsondankeymap.jsondi repo bersama biar konsisten. -
Ekstensi terminal lebih penting dari yang dikira — karena beberapa extension VS Code belum ada, terminal command jadi pengganti.
-
Kolaborasi Zed mengubah cara code review — real-time editing jauh lebih efisien dari screen sharing.
-
Performa bukan cuma soal angka — yang paling kerasa adalah "feeling". Editor yang responsif bikin kamu lebih fokus ke kode, bukan ke tool.
Perbandingan Detail: Kapan Pilih Zed vs VS Code vs Cursor
Kriteria | Zed | VS Code | Cursor |
|---|---|---|---|
Kecepatan startup | ⭐⭐⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐ |
Hemat RAM | ⭐⭐⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐ | ⭐⭐ |
Ekosistem extension | ⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐⭐⭐ |
AI file-level | ⭐⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐⭐ |
AI codebase-wide | ⭐ | ⭐ | ⭐⭐⭐⭐⭐ |
Kolaborasi real-time | ⭐⭐⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐ | ⭐⭐ |
Vim mode | ⭐⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐ |
Open source | ⭐⭐⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐⭐⭐ | ⭐ |
Debugging (DAP) | ⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐⭐ |
Windows support | ⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐⭐⭐ |
Rekomendasi Berdasarkan Use Case
Pilih Zed kalau:
-
Performa dan efisiensi resource jadi prioritas utama
-
Kamu sering pair programming dan butuh kolaborasi real-time
-
Kamu ngoding di TypeScript, Python, Rust, atau Go (dukungan language-nya udah excellent)
-
Hardware kamu terbatas dan butuh editor yang ringan
-
Kamu suka kontrol konfigurasi via JSON
Tetap pakai VS Code kalau:
-
Kamu sangat bergantung ke extension spesifik (database UI, framework debugger, dll.)
-
Organisasi udah standardisasi di VS Code
-
Kamu butuh komunitas dan dukungan yang sangat luas
-
Workflow kamu sangat terikat ekosistem VS Code
Pilih Cursor kalau:
-
AI codebase-wide indexing itu wajib buat workflow kamu
-
Kamu butuh multi-file AI edits (Composer mode)
-
Kamu mau agentic AI yang bisa browse codebase dan run terminal commands
-
Kamu sudah terbiasa ekosistem VS Code tapi mau AI yang lebih dalam
Kelebihan dan Kekurangan Zed: Ringkasan Jujur
Kelebihan
-
Performa luar biasa — startup instan, input latency 2ms, rendering GPU native
-
Hemat resource — 180MB RAM idle vs 650MB VS Code
-
Kolaborasi bawaan — real-time multiplayer editing tanpa extension
-
AI terintegrasi — dukung multiple provider, inline assist, assistant panel
-
Open-source — kode bebas dilihat dan dikontribusi
-
Vim mode responsif — jalan di Rust, bukan JavaScript
-
Multi-buffer editing — unik dan sangat produktif
-
Extension sandboxed — WebAssembly, nggak bisa crash editor
-
Pengembangan aktif — rilis hampir setiap mingku
-
Parallel agents — jalankan multiple agent threads across projects
Kekurangan
-
Ekosistem extension masih kecil — ~800 vs 50.000+ VS Code
-
Settings JSON tanpa UI — butuh waktu adaptasi
-
AI codebase-wide belum ada — kalah dari Cursor di area ini
-
Windows support masih lebih baru — macOS dan Linux lebih matang
-
Tidak ada browser/preview embed — kecuali markdown preview
-
Project management terbatas — satu instance per project, nggak ada recent projects launcher yang comprehensive
-
Beberapa fitur butuh akun GitHub — kolaborasi dan sync butuh sign in
-
Freemium AI model — free version membatasi jumlah predictive edits dan generative queries per bulan
Apa yang Baru di Zed Versi Terbaru?
Zed berkembang pesat. Beberapa highlight dari rilis terbaru:
v1.11.0 (Juli 2026):
-
Staged dan Unstaged Changes views baru
-
Preview pane di project symbols picker
-
Diff stats di uncommitted changes toolbar
-
Panel khusus Agent dan Git di menu View
-
Verbesserungen untuk ACP agents onboarding
-
Support untuk model AI terbaru (GPT 5.6, Claude Fable 5, Sonnet 5, Grok 4.3)
-
Performance improvements untuk Git Panel
v1.10.0 (Juli 2026):
-
llama.cpp sebagai language model provider baru
-
Setting
git.inline_blame.locationbuat kontrol lokasi blame -
Format-on-save di-disable by default
-
LLM providers, external agents, dan MCP servers pindah ke settings editor
-
Helix mode improvements
-
Auto-watch button buat collab panel
v1.9.0 (Juli 2026):
-
Telescope-style resizable pickers dengan preview (860 upvotes request!)
-
Text finder picker dengan preview
-
In-thread search di Agent Panel
-
Shell completion generation untuk
zedCLI -
Startup performance improvements
Roadmap ke Depan
Zed punya roadmap yang ambisius. Beberapa yang sudah diumumkan:
-
DeltaDB — sistem version control baru yang dirancang untuk era agentic editing, di mana percakapan antara developer dan AI jadi sumber sejati dari software
-
Parallel Agents — jalankan multiple agent threads di beberapa project sekaligus biar kamu nggak pernah keluar dari flow
-
Community Champions Program — program pengakuan untuk kontributor frequen
-
Extension ecosystem expansion — terus tumbuh dengan ratusan extension baru
Tim Zed juga aktif merekrut engineer, jadi ini proyek yang terus berkembang dengan dukungan penuh.
Kesalahan yang Saya Buat (Biar Kamu Nggak Perlu Ulang)
Saya mau jujur — waktu pertama kali pakai Zed, saya bikin beberapa kesalahan yang bikin pengalaman awal nggak seoptimal yang seharusnya.
Kesalahan 1: Nggak import template settings default. Saya langsung bikin settings.json dari nol dan bingung kenapa banyak hal yang nggak jalan. Solusi: buka dokumentasi, copy template default, lalu sesuaikan.
Kesalahan 2: Terlalu banyak install extension di awal. Saya install 15 extension sekaligus padahal belum semua dibutuhkan. Beberapa malah bikin editor behave aneh. Solusi: install satu per satu, test dulu, baru tambah yang lain.
Kesalahan 3: Mengharapkan AI kayak Cursor. Saya kira Zed AI bisa index seluruh codebase dan jawab pertanyaan cross-file. Ternyata nggak. Solusi: pakai Zed AI buat file-level work, dan manual provide context buat pertanyaan yang lebih luas.
Kesalahan 4: Pakai format_on_save: "on" tanpa cek formatter. Saya enable format-on-save tapi lupa install formatter yang sesuai. Hasilnya: error setiap save. Solusi: pastikan formatter terinstall dulu (Prettier, Black, rustfmt, dll.) sebelum enable.
Kesalahan 5: Nggak pakai multi-buffer. Awalnya saya nggak sadar fitur ini ada. Setelah tahu, saya nyesel kenapa nggak dari awal pakai. Sekarang multi-buffer jadi salah satu fitur yang paling sering saya pakai.
Link Berguna
Akhir Kata
Zed Editor itu kayak teman yang nggak banyak omong tapi selalu ada saat dibutuhin. Ia nggak mencoba jadi segalanya untuk semua orang — ia fokus jadi yang terbaik di hal yang penting: kecepatan, kolaborasi, dan pengalaman ngoding yang menyenangkan.
Kalau kamu capek sama editor yang berat, yang makan RAM kayak makan nasi padang, dan yang freeze di saat paling nggak tepat — coba Zed. Install-nya cuma butuh 5 menit. Dan kalau kamu nggak suka, uninstall-nya juga gampang. Tapi kemungkinan besar, kamu bakal suka.
Saya udah pakai Zed cukup lama buat tahu kapan ia bersinar dan kapan ia masih perlu tumbuh. Untuk ngoding sehari-hari di bahasa populer, ia udah lebih dari cukup. Untuk kolaborasi tim, ia yang terbaik di kelasnya. Dan untuk performa — well, angka-nya udah bicara sendiri.
Selamat mencoba, Teman-Teman. Kalau ada pertanyaan atau pengalaman sendiri, bagikan ya — kita belajar bareng.
Kesimpulan
Setelah ngoprek Zed Editor berminggu-minggu, satu hal yang jelas banget: editor ini nggak bikin janji muluk-muluk. Yang dijanjikan adalah kecepatan, dan itu yang dibayar. Dari boot time yang nyaris instan sampai responsivitas tiap ketikan, Zed membuktikan bahwa kode yang ditulis dari nol pakai Rust emang beda rasanya. Tapi Zed bukan cuma soal cepat — fitur seperti multi-buffer, parallel agents, dan kolaborasi real-time nunjukin bahwa tim Zed paham banget apa yang dibutuhin developer modern: alat yang nggak nghalangin flow, malah nge-boost-nya.
Tentu ada trade-off yang harus kamu terima. AI-nya belum se-agresif Cursor buat indexing codebase, dan ekosistem extension masih kalah gedek dibanding VS Code. Tapi coba lihat halaman rilis resmi di GitHub — update datang tiap minggu dengan fitur baru dan fix yang konsisten. Kalau ada satu hal yang saya pelajarin dari ngikutin perkembangan Zed, itu adalah: editor ini tumbuh cepat banget. Yang hari ini kurang, minggu depan mungkin udah ada.
Jadi, buat kamu yang masih ragu — berhenti baca review dan langsung cobain. Download dari zed.dev, install dalam 5 menit, buka project kamu, dan rasain sendiri bedanya. Pengalaman ngoding itu subjektif, dan nggak ada review — termasuk yang ini — yang bisa nggantin sensasi tangan di keyboard. Yang bisa saya jamin: setelah kamu terbiasa sama kecepatan Zed, balik ke editor lama terasa kayak ngopi pake sedotan yang tersumbat. Pelan, ngos-ngosan, dan bikin kesel.
Zed bukan editor buat semua orang, dan itu justru kekuatannya. Ia nggak nyoba jadi swiss army knife yang ngapain segala hal tapi nggak ada yang jalan. Ia pilih fokus: nulis kode cepat, kolaborasi yang mulus, dan AI yang nggak maksa. Kalau itu yang kamu cari, selamat datang rumah. Kalau nggak, minimal kamu udah tahu ada alternatif di luar sana yang ngegas beda.
Referensi
Zed. (2026). Zed — Your last next editor.
Zed. (2026). Zed — Download.
GitHub. (2026). Code at the speed of thought — Zed is a high-performance, multiplayer code editor from the creators of Atom and Tree-sitter.
Wikipedia. (2026). Zed (text editor).
Linux Adictos. (2026). Zed, the modern text editor that many are abandoning VSCode for.
GitHub. (2026). Releases — zed-industries/zed.
DEV Community. (2026). Zed Editor — My honest opinion.
DeployHQ. (2026). Zed Editor Guide: Setup, AI Features & Deployment.
C# Corner. (2026). Zed Editor Explained: Why Developers Are Switching from VS Code.
DevToolReviews. (2026). Zed Editor Review 2026: Fast Enough to Switch?
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!
Tinggalkan komentar